Press "Enter" to skip to content

Republik Sepuluh Ribu Rupiah

Sepuluh ribu rupiah dan satu kilogram gula memperlihatkan sesuatu yang jarang dibaca sebagai persoalan politik: ketika uang menentukan seberapa jauh seseorang dapat bergerak, kebebasan telah memiliki harga. Pagi itu seorang lelaki menukar apa yang ia punya dengan apa yang ia butuhkan, sementara saya berdiri diam dengan uang yang cukup untuk membayarnya. Ia mempertahankan martabatnya di tengah keterbatasan, saya justru dipaksa mempertanyakan kebebasan yang selama ini saya ucapkan. Barangkali persoalannya bukan siapa yang miskin dan siapa yang mampu, melainkan sistem seperti apa yang membuat seorang manusia harus membawa martabatnya ke meja transaksi hanya untuk membeli sepuluh ribu rupiah bensin.


Pagi pukul 10.00 WIB, saya berkendara menggunakan motor matic menuju suatu wilayah di Kota Sidoarjo. Kepala saya masih terasa berat karena kantuk. Matahari cerah seakan menumpahkan segalon cahaya tepat di tengah aspal. Jarum penunjuk bensin saya telah sampai pada batas akhir E. Oleh sebab itu, saya membelokkan motor menuju sebuah pom bensin di wilayah Tanggulangin, tidak jauh dari kompleks pabrik pengolahan gula Sidoarjo. Tidak ada hal aneh. Saya mengantri rapi di antara para pengendara yang sepertinya sama-sama lelah oleh perjalanan. Tak lama kemudian, tinggal satu motor di depan antrean saya. Sebuah Honda Absolute Revo berwarna merah dan abu-abu, dengan cat yang tampak telah memudar karena terus digosok panas dan hujan. Pengendaranya seorang pria berusia kurang lebih 40 tahun. Ia mengenakan celana pendek dengan warna yang sulit lagi saya kenali, seperti telah lama terkikis deterjen. Kaos oblong dan jaket abu-abu berdebu menutup tubuh bagian atasnya. Terselempang sebuah tas kanvas yang ukurannya hanya sebesar kantung susu formula. Saya menunggu dengan jok motor terangkat, siap mengisi Pertalite untuk seperempat kapasitas tangki motor saya.

Jarak saya tidak jauh, mungkin hanya satu setengah meter antara lelaki di depan saya dan bapak operator pom. Operator itu saya taksir berusia lebih dari 50 tahun, bertubuh besar, berkulit gelap, dan tampak bugar. Dari jarak sedekat itu, saya dapat melihat dengan jelas angka pada mesin dispenser yang menunjukkan nominal menuju Rp10.000. Bukan hal aneh nilai tersebut bagi saya. Sepuluh ribu rupiah untuk seperempat kapasitas tangki adalah transaksi yang biasa. Saya bahkan tidak memikirkannya. Saya hanya menunggu giliran sambil berusaha mengusir kantuk. Kemudian tiba sebuah momen yang membuat waktu subjektif dalam diri saya mendadak berubah. Peristiwa yang berlangsung kurang dari dua menit itu terasa berjalan begitu lambat. Setelah bapak operator selesai mengisi tangki lelaki tersebut senilai Rp10.000, lelaki itu memasukkan tangan ke dalam tas kanvasnya dan mengeluarkan gula kemasan satu kilogram untuk digunakan sebagai alat transaksi.

Terjadi sedikit dialog. Lelaki tersebut beberapa kali mengucapkan kata dalam bahasa Jawa, “Ngapunten”, yang berarti “maafkan saya”. Ia memberi sedikit alasan dan mengharap pemakluman dari bapak operator sambil menegosiasikan harga agar mendapat kembalian Rp500. Saya melihat ekspresi bapak operator dengan wajah yang entah bingung atau menyesal. Saya tidak dapat menafsirkannya dengan benar. Bapak itu tidak menjawab. Ia hanya menerima gula tersebut dan memberikan kembalian Rp500 tanpa berkata apa-apa. Sebelum beranjak, lelaki itu kembali mengatakan, “Ngapunten nggeh.” Lalu ia menyalakan motor dan berlalu.

Saya melihat motor merah dan abu-abu itu bergerak meninggalkan pom bensin. Saya tidak tahu ke mana ia pergi. Saya tidak tahu apa pekerjaannya. Saya tidak tahu dari mana gula itu berasal. Saya tidak tahu apakah ada seseorang yang menunggunya di rumah atau di tempat yang hendak ia tuju. Saya hanya tahu bahwa beberapa detik sebelumnya ia membutuhkan bensin dan tidak memiliki cukup uang untuk membayarnya dengan alat pembayaran yang lazim digunakan. Ia memiliki gula satu kilogram. Ia menukarnya dengan bensin. Sederhana. Tetapi kesederhanaan transaksi itu justru membuat kepala saya kemudian menjadi penuh.

Momen itu membuat saya tersendat beberapa detik untuk maju mengisi bensin, hingga ayunan tangan bapak operator memerintahkan saya untuk bergerak. Saya pun maju dan mengisi Rp10.000 untuk memberi minum seperempat kapasitas tangki motor saya. Namun dalam waktu subjektif yang tadi berlangsung begitu lambat, kepala saya langsung terasa ramai oleh dorongan agar tubuh saya bergerak membayarkan bensin lelaki tersebut. Toh, hanya Rp10.000. Saya masih mampu. Transferan hasil menulis juga baru masuk rekening. Tetapi tubuh saya tidak bergerak. Ada teater of mind yang berlangsung silih berganti. Saya ragu, jika saya membayarnya, lelaki tersebut akan malu karena itu ruang publik. Ini perihal martabat lelaki tersebut. Lalu pikiran saya berganti kepada bapak operator. Bagaimana nanti saya menjelaskan kepada manajemen pom? Lalu muncul pikiran lain. Saya sangat memahami perasaan lelaki tersebut. Saya benar-benar tahu bagaimana rasanya berada dalam keadaan ketika kebutuhan harus dipenuhi, sementara uang yang tersedia tidak cukup.

Saya membayangkan bagaimana ia menyiapkan mental untuk berbicara kepada petugas pom saat hendak mengisi bensin. Bagaimana gejolak tuntutan bahwa ia harus tiba di suatu lokasi membuatnya terpaksa mengisi bensin agar dapat sampai ke sana. Saya sangat tahu perasaan itu karena hal tersebut juga sering saya rasakan secara pribadi. Perasaan ketika perjalanan harus tetap dilanjutkan, sementara uang di tangan tidak cukup. Perasaan ketika kebutuhan tidak bisa menunggu sampai keadaan ekonomi menjadi lebih baik. Perasaan ketika seseorang harus mencari cara lain agar tetap bisa bergerak. Teater of mind itulah yang membuat saya terdiam dan tidak bergerak saat momen itu terjadi. Saya sedang menyaksikan seseorang bernegosiasi dengan keterbatasannya sendiri, tetapi pada saat yang sama saya juga sedang bernegosiasi dengan rasa takut saya sendiri.

Saya terpikir bahwa yang dilakukan lelaki itu memang harus ia lakukan demi menjaga martabatnya sebagai manusia. Bagi saya, ia melakukan tindakan yang benar dan sah. Ia bertransaksi secara barter. Memang, di zaman ini metode tersebut seakan menjadi simbol ketidakmampuan seseorang dalam wilayah finansial. Tetapi dengan cara itu lelaki tersebut justru menunjukkan martabatnya sebagai manusia. Ia tidak meminta-minta. Ia tidak meminta dikasihani. Ia hanya menegosiasikan pengertian dan pemahaman dari manusia lainnya. Ia membawa sesuatu yang ia miliki, menawarkan sesuatu yang dapat dipertukarkan, lalu meminta barang yang ia perlukan. Di dalam transaksi itu saya melihat sebuah bentuk perlawanan kecil terhadap posisi sebagai objek belas kasihan. Ia tetap menjadi subjek yang menentukan bagaimana kebutuhannya diselesaikan.

Saya kemudian berpikir bahwa kemiskinan terlalu sering diterjemahkan hanya sebagai ketiadaan uang. Kita membuat garis kemiskinan, menghitung pendapatan, mengukur daya beli, menghitung inflasi, lalu merasa telah memahami keadaan manusia. Padahal ada bentuk kemiskinan yang lebih sulit dimasukkan ke dalam tabel, yaitu sempitnya ruang pilihan. Lelaki itu mungkin memiliki gula, tetapi tidak memiliki uang. Ia mungkin memiliki motor, tetapi tidak memiliki cukup bahan bakar. Ia mungkin memiliki tujuan, tetapi untuk mencapainya ia harus terlebih dahulu melewati satu transaksi yang bagi saya hanya bernilai Rp10.000. Angka tersebut kecil bagi saya karena posisi material saya memungkinkan saya menganggapnya kecil. Bagi orang lain, angka yang sama dapat menjadi batas antara dapat bergerak dan tidak dapat bergerak.

Di titik itu saya mulai melihat bahwa apa yang terjadi di depan dispenser bensin tersebut juga merupakan persoalan politik. Politik tidak selalu datang dalam bentuk pidato, kampanye, pemilu, atau keputusan yang diumumkan dari gedung pemerintahan. Politik bekerja dalam harga barang, upah, ongkos perjalanan, kesempatan kerja, akses terhadap uang, dan kemampuan seseorang mempertahankan mobilitasnya. Politik hadir ketika seorang manusia harus menentukan apakah ia dapat membeli bensin untuk mencapai tempat yang mungkin berkaitan dengan pekerjaannya, keluarganya, atau kebutuhan hidupnya. Ketika uang tunai tidak cukup, masalah ekonomi segera berubah menjadi masalah kebebasan. Seseorang tidak sepenuhnya bebas bergerak jika setiap perjalanan harus dinegosiasikan dengan isi dompet.

Momen itu membuat saya berpikir tentang keadaan masyarakat kita hari ini. Kita hidup dalam masyarakat yang terus didorong untuk bergerak, bekerja, berproduksi, mengantar, mengirim, menjual, membeli, dan memenuhi tuntutan waktu. Mobilitas sering dianggap sebagai sesuatu yang alamiah, seolah setiap orang mempunyai kemampuan yang sama untuk bergerak. Padahal mobilitas memiliki harga. Motor membutuhkan bensin. Pekerjaan membutuhkan ongkos. Kota memiliki jarak. Waktu memiliki biaya. Ketika pendapatan tidak bergerak secepat kebutuhan, manusia dipaksa mencari bentuk-bentuk adaptasi yang semakin personal untuk menghadapi persoalan yang sebenarnya bersifat struktural. Di titik itulah persoalan ekonomi sering dibebankan kembali kepada individu. Jika tidak mampu membeli bensin, dianggap tidak pandai mengatur uang. Jika pendapatan tidak cukup, dianggap kurang bekerja keras. Jika terjebak utang, dianggap tidak mampu mengendalikan diri. Struktur yang menciptakan keterbatasan kemudian menghilang dari pembicaraan.

Saya tidak tahu apakah lelaki itu sedang miskin. Saya tidak tahu pekerjaan, pendapatan, atau keadaan rumah tangganya. Saya tidak ingin menjadikan satu transaksi sebagai keseluruhan biografinya. Tetapi saya tahu bahwa pada pagi itu ia berada dalam keadaan ketika uang tunai tidak cukup untuk membayar Rp10.000 bensin. Dan keadaan itu cukup untuk membuat saya berpikir tentang bagaimana masyarakat bekerja. Ada orang yang dapat menganggap Rp10.000 sebagai angka kecil, sementara bagi orang lain angka yang sama dapat menentukan apakah ia dapat melanjutkan perjalanan. Perbedaan itu bukan sekadar persoalan karakter. Ia berkaitan dengan posisi material seseorang. Kita sering membicarakan ketimpangan sebagai jarak antara kaya dan miskin, padahal ketimpangan juga bekerja dalam kemampuan seseorang menghadapi keadaan darurat kecil. Seseorang yang memiliki cadangan uang dapat menyelesaikan masalah dalam hitungan detik. Seseorang yang tidak memilikinya harus membawa seluruh martabatnya ke meja negosiasi.

Di sinilah saya merasa perlu berhati-hati dengan belas kasihan. Saya bisa saja maju dan berkata kepada operator, “Biar saya yang bayar.” Secara material, saya mampu. Secara moral, mungkin tindakan itu akan terlihat baik. Tetapi kebaikan juga dapat mengandung persoalan ketika ia membuat satu manusia berdiri lebih tinggi dari manusia lainnya. Saya tidak tahu apakah lelaki itu akan menerima bantuan saya sebagai pertolongan atau sebagai penghinaan yang halus. Ia tidak meminta saya. Ia telah menemukan caranya sendiri. Karena itu, kegagalan saya untuk bergerak juga tidak bisa begitu saja saya anggap sebagai kegagalan moral. Tetapi saya tetap merasa terganggu karena saya tahu ada kemungkinan saya dapat membantu dan saya memilih diam. Di antara keinginan menolong dan keinginan menghormati martabat orang lain, saya justru membeku. Tidak ada teori yang memberi saya jawaban dalam dua menit itu.

Sepanjang perjalanan, otak saya penuh akan momen tersebut. Ada perasaan gagal sebagai manusia karena tidak bergerak ketika hal itu terjadi, tetapi ada pula rasa syukur karena saya mendapat pelajaran tentang martabat. Saya mengingat bahwa saya sebenarnya mampu membayar Rp10.000 tersebut. Transferan hasil menulis baru masuk rekening. Saya memiliki kemampuan material untuk menyelesaikan persoalan itu dalam beberapa detik. Tetapi saya tidak melakukannya. Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, untuk apa saya berbicara tentang sosialisme, perjuangan, dan kemanusiaan jika saya masih tidak mampu bersikap ketika persoalan tersebut berdiri secara konkret di depan saya? Saya bisa menulis tentang manusia yang tertindas. Saya bisa membicarakan ketimpangan. Saya bisa mengkritik sistem ekonomi. Tetapi semua itu mendadak menjadi kecil ketika saya menyadari bahwa satu manusia nyata pernah berada satu setengah meter di depan saya dan saya tidak tahu harus melakukan apa.

Saya mengingat jaket hijau army yang saya gunakan pagi itu. Di punggungnya tertulis kata “FREEDOM” dengan ukuran besar. Saya mengingatnya dengan rasa malu. Bagaimana saya mampu mengucapkan kata kebebasan jika dalam situasi seperti itu saya masih terpaku dan tidak mampu bergerak? Ego saya terluka. Bukan karena saya tidak menjadi penyelamat lelaki tersebut, melainkan karena saya mendapati bahwa kebebasan yang selama ini saya bicarakan mungkin masih terlalu abstrak. Lelaki itu justru memperlihatkan kepada saya bentuk kebebasan yang lebih konkret. Ia tidak bebas dari keterbatasan ekonomi. Ia tidak bebas dari kebutuhan untuk mengisi bensin. Ia tidak bebas dari keadaan yang memaksanya membawa gula sebagai alat pembayaran. Tetapi ia masih memiliki satu kebebasan yang ia pertahankan, yaitu kebebasan untuk menentukan bagaimana ia akan menyelesaikan persoalannya tanpa meminta dirinya ditempatkan sebagai objek belas kasihan.

Mungkin karena itu saya terus mengingat kata “ngapunten”. Kata tersebut bagi saya tidak lagi sekadar ungkapan sopan. Di dalam situasi itu, ia terdengar seperti sebuah negosiasi antara martabat dan keadaan. Lelaki itu meminta maaf karena transaksi yang ia tawarkan tidak lazim, tetapi ia tidak menyerahkan dirinya kepada rasa kasihan. Ia mengakui situasi sosial yang sedang ia masuki, tetapi tetap mempertahankan dirinya sebagai orang yang bertransaksi. Operator menerima. Tidak ada pidato. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada seseorang yang difoto sedang membantu orang lain. Hanya sebuah transaksi kecil yang selesai dalam hitungan menit. Justru karena tidak ada heroisme di sana, peristiwa itu terasa lebih jujur bagi saya. Masyarakat berjalan melalui jutaan transaksi kecil semacam itu, dan dari sanalah kita dapat melihat bagaimana manusia memperlakukan manusia lain ketika tidak ada kamera, slogan, atau tuntutan untuk terlihat baik.

Saya tidak ingin mengubah lelaki tersebut menjadi simbol kemiskinan. Ia terlalu nyata untuk dipaksa menjadi simbol. Saya juga tidak ingin mengubah diri saya menjadi tokoh yang menemukan kebijaksanaan setelah melihat penderitaan orang lain. Saya gagal bergerak. Itu fakta yang harus saya terima. Tetapi dari kegagalan kecil tersebut saya memahami sesuatu yang selama ini mungkin terlalu mudah saya ucapkan. Martabat manusia tidak lahir karena seseorang memiliki uang. Ia juga tidak hilang ketika seseorang kehabisan uang. Yang diuji adalah bagaimana manusia memperlakukan dirinya sendiri dan bagaimana manusia lain memperlakukannya ketika kondisi materialnya sedang menyempit. Dan masyarakat yang sehat semestinya tidak memaksa orang mempertaruhkan martabatnya setiap kali ia kekurangan uang untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak.

Ketika motor saya kembali melaju, saya memikirkan kembali Rp10.000 yang baru saja saya keluarkan untuk mengisi seperempat kapasitas tangki saya. Jumlahnya sama dengan yang dibayarkan lelaki tadi. Tetapi maknanya tidak sama. Bagi saya, Rp10.000 adalah biaya untuk melanjutkan perjalanan. Bagi lelaki itu, Rp10.000 telah menjadi sebuah negosiasi. Ia harus mengeluarkan gula satu kilogram, meminta pengertian, mengucapkan “ngapunten”, dan membawa seluruh keadaan materialnya ke dalam sebuah transaksi yang berlangsung di depan orang lain. Perbedaan makna itu membuat saya memahami bahwa angka ekonomi tidak pernah berdiri sendiri. Di belakang angka terdapat tubuh, pekerjaan, kebutuhan, harga diri, waktu, dan ruang pilihan. Sepuluh ribu rupiah dapat menjadi sesuatu yang kecil bagi seseorang dan menjadi batas yang sangat nyata bagi orang lain.

Saya tidak tahu ke mana lelaki itu pergi setelah meninggalkan pom bensin. Saya tidak tahu apakah ia merasa malu, lega, atau biasa saja. Saya tidak tahu apakah ia akan mengingat peristiwa itu atau melupakannya beberapa menit kemudian. Saya tidak memiliki hak untuk memberinya akhir cerita. Yang tersisa bagi saya adalah pengalaman pagi itu dan kegelisahan yang dibawanya. Saya datang ke pom bensin dengan kepala mengantuk dan tangki motor yang hampir kosong. Saya hanya ingin membeli bensin. Tetapi saya pulang dengan sebuah pertanyaan yang lebih sulit daripada harga bensin, tentang apa arti kebebasan ketika seseorang tidak memiliki cukup uang untuk bergerak, tentang apa arti sosialisme ketika seorang manusia nyata berdiri di depan kita, dan tentang apa arti martabat ketika pertolongan sekalipun dapat berubah menjadi penghinaan. Saya tidak bergerak ketika mungkin saya bisa bergerak. Lelaki itu bergerak dengan apa yang ia punya. Ia membawa gula satu kilogram, membayar bensin, menerima kembalian Rp500, mengucapkan “ngapunten nggeh”, lalu pergi. Saya tetap mengingatnya sampai sekarang karena pagi itu saya menyadari bahwa mungkin kebebasan bukan pertama-tama tentang apa yang tertulis di punggung jaket kita, melainkan tentang apakah manusia masih memiliki ruang untuk berdiri sebagai dirinya sendiri ketika keadaan ekonomi terus mempersempit pilihan hidupnya.

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *