FEATURE
Komunitas literasi Surabaya menunjukkan bahwa ruang pengetahuan dapat tumbuh melalui jejaring kolektif. Diskusi publik di Das-kopital X Sawiji Book menjadi bukti kuat bahwa gerakan budaya mandiri masih hidup dan terus berkembang.
Malam itu gang sempit di kawasan Karangmenjangan, Surabaya, dipenuhi orang. Sebagian duduk di kursi yang tersedia, sebagian lain berdiri hingga meluber ke jalan. Motor terparkir rapat. Orang-orang datang bukan untuk menyaksikan konser, bukan pula untuk menghadiri acara seremonial yang digelar lembaga besar. Mereka datang untuk mendengarkan, berdiskusi, dan bertukar pikiran.
Di Das-kopital X Sawiji Book pada Rabu, 3 Juni 2026, sejumlah kolektif literasi Surabaya, yakni Cakrawalakata Movement, Das-kopital, Sawiji Book, dan Penerbit Loci, menggelar diskusi publik bersama Zen RS, penyusun buku Naar de Republiek Indonesia: Edisi Kritis 100 Tahun. Acara yang dimoderatori jurnalis Muni Moon itu membahas berbagai sisi pemikiran Tan Malaka, mulai dari metode berpikir, gerak politik, hingga relevansinya terhadap dinamika sosial dan politik hari ini.
Namun yang menarik dari peristiwa tersebut bukan semata isi diskusinya. Yang lebih penting adalah apa yang tampak di balik kerumunan itu. Ada sesuatu yang sedang bergerak di Surabaya. Sesuatu yang tumbuh tanpa komando tunggal, tanpa struktur organisasi yang kaku, dan tanpa dukungan institusional yang besar. Ia bergerak melalui jejaring kolektif yang saling terhubung, saling menopang, dan saling menghidupkan.

Kerumunan yang memenuhi Das-kopital X Sawiji Book malam itu menjadi penanda bahwa ruang pengetahuan masih memiliki tempat di tengah masyarakat. Orang-orang rela meluangkan waktu pada malam hari untuk mendengarkan pembahasan sejarah, politik, dan gagasan. Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Ada mahasiswa, pekerja, aktivis, seniman, jurnalis, hingga warga yang sekadar ingin mendengar dan berdiskusi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa literasi tidak selalu hidup di ruang formal. Ia justru sering menemukan energi terbesarnya di ruang-ruang alternatif yang dikelola secara mandiri oleh komunitas.
Dalam beberapa tahun terakhir, Surabaya menyaksikan kemunculan berbagai ruang semacam itu. Toko buku independen, kedai kopi yang membuka ruang diskusi, komunitas baca, penerbit alternatif, kelompok penulis, hingga kolektif seni terus bermunculan dan saling berjejaring. Masing-masing memiliki bentuk dan fokus yang berbeda, tetapi mereka bertemu dalam satu kepentingan yang sama, yaitu menjaga ruang pengetahuan tetap hidup.
Yang membuat gerakan ini menarik adalah sifatnya yang cair. Tidak ada pusat kendali yang mengatur seluruh kegiatan. Tidak ada organisasi induk yang memberikan instruksi kepada seluruh kelompok. Setiap komunitas bergerak sesuai kapasitas dan kebutuhan masing-masing. Namun ketika ada kebutuhan untuk menyelenggarakan sebuah kegiatan, mereka dapat bertemu dan bekerja bersama.
Model seperti ini terlihat jelas dalam penyelenggaraan diskusi bersama Zen RS. Acara tersebut lahir dari kerja kolektif beberapa kelompok yang memiliki sumber daya berbeda. Ada yang menyediakan ruang, ada yang membangun jaringan peserta, ada yang mendukung publikasi, ada pula yang menghadirkan narasumber. Seluruh elemen bergerak secara gotong royong.
Dalam konteks gerakan budaya, pola kerja seperti ini memiliki nilai penting. Ketergantungan terhadap satu organisasi atau satu sumber pendanaan sering kali membuat sebuah gerakan menjadi rapuh. Ketika organisasi melemah atau dukungan berhenti, kegiatan ikut meredup. Sebaliknya, jejaring kolektif memungkinkan banyak simpul bergerak secara mandiri sekaligus saling menguatkan.
Karena itu, keberlanjutan tidak ditentukan oleh kekuatan satu institusi, melainkan oleh kemampuan setiap simpul untuk terus hidup dan terhubung dengan simpul lain.
Di Surabaya, praktik tersebut semakin mudah ditemukan. Sebuah diskusi dapat berpindah dari toko buku ke kedai kopi, dari rumah warga ke ruang seni, dari kampus ke kampung. Pengetahuan tidak lagi bergantung pada satu lokasi atau satu penyelenggara. Ia bergerak mengikuti relasi sosial yang dibangun oleh komunitas-komunitas tersebut.
Kondisi ini menciptakan ekosistem yang lebih sehat. Ketika satu ruang mengalami kesulitan, ruang lain dapat mengambil peran. Ketika satu kelompok tidak aktif, kelompok lain tetap bergerak. Tidak ada ketergantungan mutlak terhadap satu figur atau satu lembaga.
Lebih jauh, model jejaring kolektif juga membuka peluang pertemuan yang lebih luas. Banyak orang yang sebelumnya tidak memiliki akses terhadap forum intelektual kini dapat terlibat secara langsung. Mereka tidak harus menjadi akademisi atau aktivis organisasi tertentu untuk mengikuti diskusi. Cukup datang, mendengar, bertanya, dan berdialog.
Ruang semacam ini memiliki fungsi yang jauh melampaui kegiatan membaca buku atau membedah gagasan. Ia menjadi arena perjumpaan sosial. Orang-orang dengan latar belakang berbeda bertemu dan berbicara dalam posisi yang relatif setara. Mereka saling bertukar pengalaman, menyampaikan pandangan, bahkan berdebat.
Di tengah situasi sosial yang semakin dipenuhi polarisasi dan komunikasi satu arah, ruang-ruang dialektis semacam ini menjadi semakin penting. Ia menyediakan kesempatan bagi masyarakat untuk melatih kemampuan mendengar dan menyampaikan pendapat secara terbuka.

Diskusi bersama Zen RS menjadi salah satu contoh bagaimana ruang tersebut bekerja. Meskipun titik awalnya adalah pembahasan tentang Tan Malaka, percakapan berkembang ke berbagai tema lain. Pembahasan mengenai gerakan massa, politik, aktivisme, dan dinamika sosial membuka banyak kemungkinan refleksi bagi peserta. Diskusi tidak berhenti pada sejarah, tetapi bergerak menuju pertanyaan tentang kondisi masyarakat hari ini.
Yang terjadi bukan sekadar transfer pengetahuan dari narasumber kepada audiens. Yang berlangsung adalah proses pertukaran gagasan yang melibatkan banyak pihak.
Inilah fungsi utama ruang literasi yang sering luput dari perhatian. Literasi bukan hanya soal membaca buku. Literasi adalah kemampuan membangun percakapan publik yang sehat. Literasi adalah kemampuan masyarakat untuk memahami realitas, mengajukan pertanyaan, dan merumuskan gagasan bersama.
Karena itu, kerja-kerja budaya mandiri tidak boleh dipandang sebagai aktivitas pinggiran. Ia merupakan bagian penting dari pembangunan kehidupan demokratis. Melalui ruang-ruang kecil yang dikelola secara swadaya, masyarakat belajar mengorganisasi diri, membangun solidaritas, dan merawat kebiasaan berpikir kritis.
Tantangannya tentu tidak kecil. Banyak ruang alternatif hidup dengan sumber daya yang terbatas. Pengelolanya sering bekerja secara sukarela. Mereka harus membagi waktu antara pekerjaan utama dan aktivitas komunitas. Biaya operasional, kebutuhan ruang, hingga keberlangsungan program menjadi persoalan yang terus dihadapi.
Namun justru dalam keterbatasan itulah nilai kolektivitas menemukan maknanya. Setiap orang menyumbang sesuai kemampuan. Ada yang menyediakan tempat. Ada yang membantu dokumentasi. Ada yang membuat poster. Ada yang menyebarkan informasi. Ada yang sekadar hadir dan meramaikan forum. Seluruh kontribusi itu membentuk ekosistem yang memungkinkan ruang literasi tetap hidup.

Surabaya hari ini menunjukkan bahwa gerakan literasi tidak selalu membutuhkan struktur besar untuk bertahan. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk saling terhubung, berbagi sumber daya, dan membangun kepercayaan antarkomunitas.
Kerumunan yang memenuhi Das-kopital X Sawiji Book pada malam diskusi bersama Zen RS menjadi bukti bahwa kebutuhan terhadap ruang pengetahuan masih ada. Bahkan mungkin lebih besar daripada yang sering dibayangkan. Tugas berikutnya adalah memastikan ruang-ruang tersebut terus bertambah, terus terhubung, dan terus menjadi tempat bagi masyarakat untuk belajar bersama.
Sebab pengetahuan tidak lahir dari gedung yang megah atau organisasi yang besar. Pengetahuan hidup ketika ada orang-orang yang bersedia berkumpul, membaca, berdiskusi, dan menjaga percakapan tetap berlangsung. Di sudut-sudut kota Surabaya, melalui jaringan kolektif yang bergerak tanpa komando struktural, kerja itu sedang dilakukan. Dan selama ruang-ruang semacam ini terus dirawat, harapan bagi tumbuhnya kehidupan intelektual yang lebih terbuka akan selalu menemukan tempat untuk hidup.







Be First to Comment