Feature
Pada peringatan 20 tahun Lumpur Lapindo, Hari Anti Tambang 2026 menjadi ruang bagi warga, seniman, dan aktivis untuk menjaga ingatan atas kampung yang tenggelam.
Ada yang tidak bisa ditenggelamkan lumpur.
Rumah bisa hilang. Sawah bisa lenyap. Jalan desa bisa menghilang dari peta. Pohon-pohon yang pernah ditanam seseorang dapat terkubur tanpa jejak. Bahkan makam keluarga pun bisa kehilangan penandanya.
Tetapi ada sesuatu yang lebih sulit dihapus daripada tanah.
Ingatan.
Mungkin karena itulah orang-orang terus datang ke Porong.
Bukan karena mereka ingin melihat lumpur. Lumpur telah terlalu lama menjadi bagian dari pemandangan. Dua puluh tahun adalah waktu yang cukup bagi sebuah bencana untuk berubah menjadi lanskap. Cukup lama bagi generasi baru untuk mengenalnya sebagai lokasi wisata. Cukup lama bagi negara untuk menyimpannya dalam dokumen. Cukup lama bagi media untuk berhenti menjadikannya berita utama.
Namun tidak cukup lama bagi sebagian orang untuk menganggap semuanya telah selesai.
Pada Jumat, 29 Mei 2026, tepat dua dekade setelah semburan lumpur pertama muncul di Porong, Sidoarjo, orang-orang kembali berkumpul. Sebagian datang sebagai penyintas. Sebagian sebagai seniman, mahasiswa, pegiat lingkungan, jurnalis, dan warga dari berbagai daerah yang selama ini menghadapi persoalan serupa dalam bentuk yang berbeda.
Mereka hadir dalam Hari Anti Tambang 2026.
Tetapi sejak awal terasa bahwa pertemuan ini tidak semata-mata berbicara tentang tambang.
Ia berbicara tentang ingatan.

Pukul sembilan pagi, Taman Dwarakerta di Jatirejo mulai ramai. Di bawah rindang pepohonan, puluhan karya dipasang berjajar. Ada poster, ilustrasi, foto dokumenter, zine, mural, dan media komunitas. Orang-orang berjalan perlahan dari satu karya ke karya lain.
Beberapa karya berbicara tentang panas bumi di Flores.
Sebagian menyoroti industri nikel di Maluku Utara.
Yang lain merekam perubahan bentang alam, konflik agraria, atau pengalaman masyarakat yang hidup berdampingan dengan proyek-proyek besar yang datang atas nama pembangunan.
Pada pandangan pertama, pameran itu tampak seperti ruang seni terbuka.
Namun semakin lama memperhatikannya, semakin terlihat bahwa yang sedang dipamerkan bukan sekadar karya.
Yang dipamerkan adalah pengalaman.
Setiap poster menyimpan sebuah tempat.
Setiap foto membawa jejak seseorang.
Setiap ilustrasi berangkat dari ruang hidup yang pernah atau sedang mengalami perubahan.
Pameran itu seperti kumpulan fragmen yang berasal dari berbagai pulau. Masing-masing memiliki cerita sendiri, tetapi semuanya berbicara tentang hubungan manusia dengan tanah tempat mereka hidup.
Dalam banyak laporan resmi, hubungan semacam itu sering kali tidak tampak.
Laporan pembangunan mengenal istilah investasi, produktivitas, pertumbuhan, hilirisasi, dan transisi energi. Semua istilah itu bekerja melalui angka. Angka diperlukan untuk mengukur, menghitung, dan merencanakan.
Tetapi kehidupan manusia tidak selalu tunduk kepada angka.
Ada hal-hal yang tidak dapat diterjemahkan menjadi statistik.
Tidak ada tabel yang mampu menjelaskan bagaimana rasanya kehilangan kampung halaman.
Tidak ada grafik yang dapat menggambarkan hubungan seseorang dengan pohon yang ditanam ayahnya puluhan tahun lalu.
Tidak ada data yang mampu mengukur kesedihan ketika makam leluhur tidak lagi dapat diziarahi.
Barangkali karena itulah seni hadir dalam HATAM.
Bukan sebagai penghias acara.
Melainkan sebagai cara lain untuk memahami kenyataan.
Di salah satu sudut pameran, pengunjung berhenti lebih lama di depan foto-foto yang merekam jejak tragedi Lapindo. Sebagian memperhatikan detail. Sebagian berdiskusi. Sebagian memilih diam.
Diam sering kali menjadi bentuk percakapan yang paling jujur ketika berhadapan dengan kehilangan.
Di waktu berikutnya, diskusi berlangsung.
Pembicara bergantian menjelaskan situasi yang mereka hadapi di berbagai daerah. Ada yang berbicara tentang ekspansi industri nikel. Ada yang menyinggung panas bumi. Ada yang mengangkat persoalan ruang hidup masyarakat yang terus menyusut akibat berbagai proyek pembangunan.
Namun menariknya, percakapan hari itu tidak terjebak pada pertukaran data semata.
Di balik semua pembahasan tersebut terdapat pertanyaan yang lebih mendasar.
Apa yang sebenarnya hilang ketika sebuah wilayah berubah?
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tetapi jawabannya jauh lebih rumit daripada yang terlihat.
Sebab sebuah kampung bukan hanya kumpulan bangunan.
Kampung adalah jaringan hubungan yang membuat seseorang memahami dunia.
Di sana seseorang mengenali suara yang membangunkannya setiap pagi.
Di sana seseorang mengetahui arah pulang bahkan tanpa penunjuk jalan.
Di sana seseorang memahami musim, mengenali tetangga, membangun persahabatan, jatuh cinta, menikah, membesarkan anak, lalu dimakamkan.
Ketika kampung hilang, yang hilang bukan sekadar ruang.
Yang ikut berubah adalah cara manusia berhubungan dengan hidupnya sendiri.
Menjelang pukul dua siang, kegiatan di Taman Dwarakerta perlahan bergerak menuju titik yang lain.

Peserta mulai berjalan menuju tanggul lumpur.
Perpindahan itu terasa simbolis.
Sejak pagi mereka melihat representasi berbagai konflik ruang hidup melalui foto, poster, ilustrasi, dan diskusi.
Kini mereka menuju tempat di mana salah satu kisah paling besar tentang kehilangan ruang hidup terjadi.
Tanggul lumpur membentang panjang di hadapan mereka.
Dari atasnya terlihat hamparan lumpur yang selama dua dekade menjadi penanda tragedi Porong.

Sulit membayangkan bahwa di bawah bentangan itu pernah berdiri kampung-kampung yang hidup.
Sulit membayangkan bahwa di bawah kaki mereka pernah ada jalan desa, sekolah, sawah, rumah ibadah, dan halaman tempat anak-anak bermain.
Namun justru karena sulit dibayangkan, orang-orang itu datang.
Mereka mengikuti Sambang Buyut.
Buah-buahan ditata di atas tampah. Bunga diletakkan di sekitar sesaji. Doa dipanjatkan. Nama-nama kampung yang hilang kembali disebut.
Renokenongo.
Jatirejo.
Kedungbendo.
Nama-nama itu melintasi udara siang yang panas.
Dalam banyak kebudayaan, menyebut nama adalah cara mempertahankan keberadaan.
Nama membuat sesuatu tetap hidup.
Nama menjaga hubungan antara masa lalu dan masa kini.
Mungkin karena itu Sambang Buyut memiliki makna yang lebih besar daripada ritual penghormatan kepada leluhur.

Ia merupakan upaya mempertahankan keberadaan kampung yang telah hilang secara fisik.
Seolah-olah para peserta sedang mengatakan bahwa sebuah tempat tidak benar-benar lenyap selama masih ada yang mengingatnya.
Pada titik inilah tema HATAM tahun ini menjadi lebih mudah dipahami.
“Dari Lapindo ke Seluruh Pulau: Menghadang Ekstraktivisme, Meneguhkan Veto Rakyat.”
Tema tersebut tidak lahir dari keyakinan bahwa setiap konflik lingkungan identik satu sama lain.
Ia lahir dari pengamatan bahwa berbagai wilayah di Indonesia menghadapi pertanyaan yang serupa.
Siapa yang menentukan masa depan sebuah ruang hidup?
Siapa yang memiliki hak untuk memutuskan perubahan atas tanah yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat?
Dan ketika perubahan itu menimbulkan kerusakan atau kehilangan, siapa yang memikul akibatnya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu memiliki jawaban yang sederhana.
Karena itu HATAM tidak menawarkan kesimpulan yang mudah.
Yang ditawarkan adalah ruang untuk mendengarkan.
Mendengarkan pengalaman warga.
Mendengarkan cerita yang sering tenggelam di bawah bahasa teknokratis pembangunan.
Mendengarkan mereka yang selama ini lebih sering menjadi objek kebijakan daripada subjek yang menentukan nasibnya sendiri.
Dalam konteks itu, kebudayaan mengambil posisi yang penting.
Bukan sebagai pelarian dari kenyataan.
Melainkan sebagai cara menghadapi kenyataan.
Film yang diputar sepanjang rangkaian acara menghadirkan suara perempuan yang sering tidak memperoleh ruang cukup dalam narasi pembangunan.
Poster dan ilustrasi menghadirkan pengalaman yang sulit diringkas menjadi laporan.
Pameran menjadi tempat berbagai wilayah saling bertemu.
Sambang Buyut menghubungkan seluruhnya dengan sejarah yang sangat konkret: sebuah kampung yang hilang dan warga yang menolak melupakannya.
Menjelang sore, sebagian peserta mulai meninggalkan tanggul.
Langkah mereka perlahan menjauh dari lokasi ritual.
Namun ada sesuatu yang tertinggal di sana.
Bukan bunga.
Bukan sesaji.
Melainkan kesadaran bahwa ingatan bukan perkara masa lalu semata.
Ingatan juga menentukan masa depan.
Sebab cara sebuah masyarakat mengingat akan memengaruhi cara mereka memutuskan apa yang layak dipertahankan dan apa yang boleh dikorbankan.
Dua puluh tahun setelah lumpur menelan kampung-kampung di Porong, warga yang berkumpul di atas tanggul hari itu tidak sedang mencari jalan untuk kembali ke masa lalu.
Mereka tahu masa lalu tidak bisa dipulihkan sepenuhnya.
Yang mereka lakukan adalah menjaga agar masa lalu tidak dihapus.
Karena ketika sebuah kampung hilang dari tanah, sejarahnya masih dapat hidup dalam cerita.
Ketika rumah-rumah tidak lagi berdiri, nama-namanya masih dapat disebut.
Dan ketika sebuah tempat tidak lagi terlihat oleh mata, ia tetap dapat bertahan di dalam ingatan orang-orang yang menolak melupakannya.







Be First to Comment