FEATURE | foto oleh: Octaviana Salma
Diskusi publik “Thukulnya Wiji, Tumbangnya Orde Ba(r)u” di Surabaya mengajak peserta membaca ulang pemikiran, perjuangan, dan relevansi Wiji Thukul dalam menjaga ingatan sejarah Reformasi 1998
Rak rak buku yang memenuhi dinding Kedai Kopi Daskopital seolah menjadi latar yang tepat untuk sebuah malam yang berusaha menghidupkan kembali ingatan. Di antara tumpukan buku, gelas kopi, dan kursi yang tersusun rapat, puluhan orang berkumpul pada Sabtu malam, 31 Mei 2026, di Surabaya. Mereka datang dari latar yang berbeda. Ada pegiat sastra, mahasiswa, aktivis komunitas, anggota organisasi sosial, hingga masyarakat umum yang sekadar ingin mendengar dan berdialog.
Mereka hadir dalam diskusi publik bertajuk “Thukulnya Wiji, Tumbangnya Orde Ba(r)u”, sebuah forum yang tidak hanya mengajak peserta mengenang sosok Wiji Thukul sebagai penyair, tetapi juga menelusuri gagasan, keberpihakan, dan jejak politiknya menjelang tumbangnya rezim Orde Baru pada 1998.
Malam itu, nama Wiji Thukul tidak diperlakukan sebagai artefak sejarah yang dibingkai rapi di masa lalu. Ia hadir sebagai bahan percakapan yang terus hidup, diperdebatkan, dan dibaca ulang untuk memahami tantangan zaman yang terus berubah.
Suasana diskusi terasa hangat sejak awal. Tidak ada jarak yang tegas antara pemantik dan peserta. Kursi disusun berdekatan. Di sudut ruangan, kopi dan obrolan kecil menjadi pelengkap yang membuat forum terasa cair.

Kim Al Ghozali AM, penyair dan esais yang menjadi pemantik diskusi, mengajak peserta melihat Wiji Thukul dari sudut yang lebih luas. Selama ini, nama Thukul sering kali dikenang melalui puisi puisinya yang lantang mengkritik kekuasaan. Puisi seperti Peringatan atau Bunga dan Tembok terus dibacakan dalam berbagai momentum pergerakan. Namun menurutnya, berhenti pada karya sastra saja berarti hanya melihat sebagian kecil dari sosok Thukul.
Diskusi kemudian bergerak pada pertanyaan yang lebih mendasar. Bagaimana seorang penyair dapat terlibat begitu jauh dalam perjuangan politik rakyat. Mengapa puisi bagi Thukul tidak hanya menjadi ekspresi estetik, tetapi juga alat perlawanan. Dan bagaimana keberaniannya mengorganisasi, mendampingi, serta menyuarakan kelompok yang terpinggirkan menjadikan dirinya ancaman bagi rezim saat itu.
Dalam berbagai pembacaan mengenai Wiji Thukul, sering kali puisi ditempatkan sebagai titik akhir. Padahal puisi justru menjadi pintu masuk untuk memahami jalan hidupnya. Kata kata yang ia tulis lahir dari pengalaman yang konkret. Dari kehidupan buruh, rakyat miskin kota, tekanan politik, hingga berbagai bentuk ketidakadilan yang ia saksikan secara langsung.
Karena itu, membaca Thukul tidak cukup hanya dengan menghafal bait-bait puisinya. Membaca Thukul berarti memahami kondisi sosial yang melahirkan puisinya. Membaca keberaniannya mengambil risiko. Membaca pilihannya untuk berdiri bersama mereka yang suaranya jarang didengar.
Pembahasan semacam itu membuat diskusi tidak berhenti sebagai acara peringatan sejarah. Forum berubah menjadi ruang refleksi tentang kondisi masa kini.

Bagi banyak peserta, keruntuhan Orde Baru memang telah berlangsung hampir tiga dekade lalu. Sebagian yang hadir bahkan lahir setelah reformasi terjadi. Mereka tidak mengalami langsung suasana represif yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pada masa itu. Namun justru karena itulah ruang-ruang diskusi seperti ini menjadi penting.
Sejarah tidak diwariskan secara otomatis. Ia harus terus diceritakan, dibaca ulang, dan dipertanyakan kembali.
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial yang berlangsung cepat, ingatan kolektif dapat memudar. Nama nama yang pernah menjadi simbol perlawanan perlahan berubah menjadi sekadar materi pelajaran atau kutipan di media sosial. Ketika hal itu terjadi, sejarah kehilangan daya kritisnya.
Diskusi malam itu seakan menjadi upaya untuk menolak lupa.
Bukan semata mengingat tragedi, tetapi juga mengingat gagasan yang pernah diperjuangkan. Sebab sejarah tidak hanya berisi rentetan peristiwa. Di dalamnya terdapat nilai, pengalaman, dan pelajaran yang dapat membantu generasi berikutnya memahami arah yang hendak dituju.
Pertanyaan demi pertanyaan terus mengalir dari peserta. Beberapa menyinggung posisi seniman dalam gerakan sosial. Sebagian lain mempertanyakan relevansi pemikiran Wiji Thukul di tengah situasi politik hari ini. Ada pula yang mencoba menghubungkan pengalaman perlawanan pada akhir Orde Baru dengan berbagai persoalan sosial yang masih dihadapi masyarakat saat ini.
Percakapan berlangsung terbuka. Tidak ada upaya untuk menghadirkan jawaban tunggal. Yang muncul justru keberagaman pandangan yang memperkaya pembahasan.

Di situlah makna penting sebuah ruang diskusi terlihat. Forum semacam ini bukan sekadar tempat menyampaikan informasi. Ia menjadi ruang bertemunya pengalaman, gagasan, dan perspektif yang berbeda. Dari proses itu, pemahaman bersama dapat tumbuh.
Keberagaman peserta yang hadir juga memperlihatkan bahwa isu sejarah dan pergerakan tidak hanya menjadi milik kalangan tertentu. Mahasiswa duduk berdampingan dengan pegiat komunitas. Aktivis berdialog dengan masyarakat umum. Perbedaan latar belakang tidak menghalangi terjadinya percakapan yang hidup.
Situasi tersebut menghadirkan kesan inklusif yang jarang ditemukan dalam forum formal. Orang datang bukan karena kewajiban, melainkan karena dorongan untuk belajar dan berdiskusi.
Hal itu menunjukkan bahwa kebutuhan untuk memahami sejarah masih tetap ada. Bahkan ketika zaman berubah, manusia tetap membutuhkan ruang untuk menghubungkan masa lalu dengan masa kini.
Membaca ulang Wiji Thukul pada akhirnya bukan soal romantisme terhadap masa lampau. Yang lebih penting adalah memahami mengapa pemikirannya masih terus dibicarakan hingga sekarang.
Ketika ketimpangan sosial masih terjadi, ketika suara kelompok rentan masih sering diabaikan, dan ketika kebebasan berekspresi masih menghadapi berbagai tantangan, gagasan yang pernah diperjuangkan Thukul tetap menemukan relevansinya.
Karena itulah diskusi tentang dirinya tidak pernah benar benar selesai.
Malam semakin larut ketika sesi diskusi berakhir. Namun suasana tidak langsung bubar. Sebagian peserta masih melanjutkan percakapan dalam kelompok kecil. Ada yang mendiskusikan buku. Ada yang bertukar pengalaman organisasi. Ada pula yang sekadar melanjutkan obrolan mengenai berbagai isu sosial yang muncul selama forum berlangsung.

Momentum itu kemudian dilanjutkan dengan penampilan musik dari Sembilu, musisi gerilyawan yang dikenal melalui lagu lagu bertema sosial dan lingkungan. Dengan gitar akustik di tangan, ia membawakan sejumlah karya yang mengangkat keresahan masyarakat terhadap berbagai persoalan yang mereka hadapi sehari hari.
Lagu lagu yang dibawakan malam itu terasa menyatu dengan semangat diskusi sebelumnya. Jika dalam forum gagasan disampaikan melalui percakapan, maka melalui musik pesan yang sama menemukan bentuk yang berbeda.
Nada dan lirik menjadi medium untuk menyampaikan kegelisahan, harapan, dan keberpihakan terhadap mereka yang sering kali tidak mendapat ruang dalam percakapan arus utama.
Perpaduan antara diskusi dan musik menghadirkan suasana yang tidak sekadar intelektual, tetapi juga emosional. Para peserta tidak hanya diajak berpikir, melainkan juga merasakan.
Di tempat sederhana itu, sejarah tidak hadir sebagai monumen yang dingin. Ia hidup melalui percakapan, pertanyaan, lagu, dan pertemuan antarmanusia.
Malam peringatan runtuhnya Orde Baru itu akhirnya menunjukkan satu hal. Sebuah gerakan, komunitas, atau masyarakat tidak dapat berjalan hanya dengan melihat ke depan. Mereka juga perlu sesekali menoleh ke belakang untuk memahami dari mana mereka berasal, pelajaran apa yang pernah diperoleh, dan nilai apa yang perlu terus dijaga.
Mengingat sejarah bukan berarti terjebak dalam masa lalu. Justru dengan mengingat, orang memiliki pijakan untuk melangkah lebih jauh.
Karena itu, forum seperti “Thukulnya Wiji, Tumbangnya Orde Ba(r)u” memiliki arti yang melampaui sebuah acara diskusi. Ia menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif. Ruang untuk menggeledah kembali pikiran dan jejak perjuangan yang pernah membentuk perjalanan bangsa. Ruang yang mengingatkan bahwa sejarah tidak selesai ketika sebuah rezim runtuh, melainkan terus hidup selama masih ada orang yang bersedia membacanya kembali.







Be First to Comment