oleh: Sinar Surya Purnama – Cakrawalakata Movement
Saya tidak datang ke ruang pamer itu sebagai fotografer. Saya juga tidak datang dengan pengetahuan yang cukup untuk menilai apakah sebuah foto bekerja dengan baik menurut ukuran teknis fotografi. Saya datang sebagai seseorang yang berdiri di hadapan gambar, memandangnya dalam waktu tertentu, kemudian membiarkan sesuatu dari gambar itu menetap dalam pikiran. Karena itu, tulisan ini bukan ulasan fotografi dan tidak berpretensi membaca karya-karya yang dipamerkan dari sudut pandang kuratorial. Ia lebih dekat dengan catatan tentang pengalaman estetis seorang penonton, tentang apa yang terjadi ketika mata berhadapan dengan foto dan kemudian bergerak menuju sesuatu yang berada di luar foto itu sendiri.
Pada Sabtu, 15 Agustus 2026, saya menemukan pengalaman tersebut di Wisma Jerman, Surabaya. AJI Surabaya bersama Alit Indonesia menggelar pameran, diskusi, dan forum jejaring bertajuk “Dari Tengger Untuk Dunia”. Di sepanjang lorong galeri, karya sekitar empat fotografer menghadirkan potongan kehidupan masyarakat Tengger melalui prosesi Yadnya Karo. Saya berjalan di antara foto-foto itu tanpa membawa keinginan untuk menilai teknik, komposisi, atau keputusan fotografis para pembuatnya. Yang saya bawa hanyalah mata seorang penonton. Dari mata itulah pengalaman pertama saya bermula.
Ada sesuatu yang ganjil ketika sebuah ritus yang hidup di lereng Tengger tiba-tiba berada di dinding sebuah ruang pamer di Surabaya. Ia telah meninggalkan tempatnya, meninggalkan suara-suara yang mengiringinya, tanah tempat kaki para pelaku ritual berpijak, udara yang mengandung bau dupa, dan orang-orang yang menjalaninya sebagai bagian dari kehidupan mereka sendiri. Yang tersisa di hadapan saya adalah gambar. Tubuh manusia yang dibekukan dalam satu gerak, wajah yang berhenti pada satu ekspresi, benda-benda ritual yang menjadi sunyi karena tidak lagi disentuh tangan yang menggunakannya. Namun, anehnya, kesunyian gambar itu tidak membuat peristiwa terasa mati. Justru dari sana saya merasa sebuah kehidupan sedang berusaha mencapai saya.

Foto memiliki kemampuan untuk membawa sebuah peristiwa melewati batas tempatnya. Apa yang berlangsung di tengah masyarakat Tengger dapat dilihat oleh orang yang mungkin tidak pernah berada di sana. Tubuh-tubuh yang berkumpul, wajah yang menghadap pada suatu prosesi, benda-benda yang digunakan dalam ritus, pakaian, ruang, dan lanskap, semuanya memperoleh kehidupan kedua ketika berada di dalam bingkai. Ia tidak lagi hanya menjadi bagian dari peristiwa yang berlangsung sesaat. Ia menjadi sesuatu yang dapat dilihat kembali, dibaca kembali, dan dibicarakan oleh orang lain yang berada jauh dari tempat asalnya.
Saya kira di situlah pengalaman saya terhadap fotografi mulai bergerak. Saya mula-mula melihat gambar sebagai gambar. Ada warna, cahaya, wajah, pakaian, dan susunan tubuh yang menarik perhatian. Tetapi semakin lama berdiri di hadapannya, saya merasa bahwa mata tidak pernah benar-benar puas dengan apa yang terlihat. Ada dorongan untuk mengetahui apa yang membuat orang-orang itu berkumpul, mengapa tubuh mereka bergerak dalam cara tertentu, apa arti benda yang mereka bawa, dan pengetahuan apa yang memungkinkan sebuah ritus terus dijalankan. Foto perlahan berubah dari sesuatu yang saya lihat menjadi sesuatu yang membuat saya ingin mengetahui.
Di titik itu, saya menyadari bahwa pengalaman estetis tidak selalu berhenti pada keindahan. Keindahan dapat menjadi awal dari pengetahuan. Sebuah wajah yang tertangkap kamera mungkin pertama-tama menarik perhatian karena ekspresinya, tetapi setelah beberapa saat wajah itu mengundang pertanyaan tentang siapa orang tersebut dan apa yang sedang ia jalani. Sebuah benda ritual dapat memikat mata karena bentuknya, tetapi kemudian kita bertanya mengapa benda itu hadir dan apa yang membuatnya penting. Ada saat ketika mata berhenti menjadi sekadar alat untuk melihat. Ia mulai bekerja sebagai jalan menuju rasa ingin tahu.
Percakapan dengan Andre Yuris, salah seorang fotografer dari AJI Surabaya yang karyanya dipamerkan, memperluas pengalaman tersebut. Ia bercerita bahwa fotografi menjadi salah satu upaya untuk memperkenalkan masyarakat Tengger, bukan hanya melalui tradisi yang tampak dalam ritus, tetapi juga melalui pengetahuan adat yang hidup di dalam masyarakat. Salah satunya adalah Kalender Tengger, yang memuat pengetahuan tentang waktu, termasuk penentuan masa tanam dan berbagai aktivitas kehidupan. Saya kemudian kembali memandang foto-foto itu dengan kesadaran yang berbeda. Di balik sebuah prosesi ternyata terdapat cara tertentu dalam memahami waktu.
Pengetahuan tentang waktu mungkin terdengar sederhana sampai kita menyadari bahwa kehidupan manusia selalu disusun olehnya. Kita menentukan kapan memulai, kapan menunggu, kapan menanam, kapan berkumpul, kapan merayakan, dan kapan mengingat. Kalender Tengger memperlihatkan bahwa waktu tidak semata-mata sesuatu yang bergerak di luar manusia. Ia dapat menjadi bagian dari pengetahuan yang diwariskan dan digunakan untuk mengatur kehidupan. Dari sini, Yadnya Karo bagi saya mulai tampak bukan sekadar sebagai peristiwa ritual, melainkan sebagai salah satu bagian dari cara sebuah masyarakat memahami keberadaannya sendiri.

Fotografer memiliki peran penting dalam membuat lapisan semacam itu dapat mencapai penonton. Mereka membawa kamera ke dalam peristiwa, tetapi yang mereka bawa pulang bukan sekadar rekaman. Ada pilihan tentang apa yang dilihat, kapan sebuah peristiwa dianggap penting untuk dipotret, dari jarak mana manusia didekati, dan momen mana yang dianggap mampu berbicara kepada orang lain. Pilihan tersebut merupakan bentuk perhatian. Fotografer membaca sebuah peristiwa melalui mata mereka, lalu memberi kesempatan kepada kita untuk melakukan pembacaan berikutnya.
Saya tidak merasa perlu menempatkan diri sebagai orang yang mengetahui makna setiap foto. Justru karena saya bukan fotografer, saya memiliki hubungan yang berbeda dengan karya-karya itu. Saya menerima foto sebagai penonton dan membiarkannya bekerja melalui pengalaman saya sendiri. Ada foto yang membuat saya memperhatikan wajah. Ada yang membuat saya melihat hubungan antara manusia dan ruang. Ada yang membuat saya berpikir tentang benda-benda yang dalam kehidupan sehari-hari mungkin akan saya lewatkan begitu saja. Pengalaman itu tidak memberi saya hak untuk berbicara atas nama fotografer atau masyarakat Tengger. Ia hanya memberi saya alasan untuk mengatakan bahwa sebuah foto telah mengubah cara saya melihat sesuatu.
Dari sana saya mulai melihat fotografi sebagai bahasa penyampai nilai. Bahasa itu tidak hadir dalam bentuk uraian tentang apa yang harus dipercaya oleh penonton. Ia hadir melalui apa yang diperlihatkan dan cara sesuatu diperlihatkan. Sebuah tubuh yang berdiri dalam ritus dapat berbicara tentang keterlibatan. Sebuah ruang dapat berbicara tentang hubungan manusia dengan tempat. Sebuah benda dapat membawa kita pada pengetahuan yang tidak langsung terlihat. Foto tidak harus menjelaskan seluruh kebudayaan agar dapat menyampaikan sesuatu tentangnya. Kadang-kadang ia cukup memberi satu pengalaman visual yang membuat kita ingin memahami kehidupan di baliknya.
Karena itu, saya melihat karya-karya dalam pameran ini lebih dari sekadar kumpulan dokumentasi tentang Yadnya Karo. Ia adalah hasil dari perjumpaan antara manusia yang memotret dan manusia yang hidup dalam kebudayaan tersebut. Perjumpaan itu kemudian sampai kepada orang lain melalui gambar. Di dalam proses tersebut, fotografi memiliki peran kultural yang penting. Ia membuat sebuah pengalaman dapat melampaui ruang asalnya tanpa harus kehilangan hubungan dengan manusia yang menjalaninya.
Yang menarik bagi saya adalah bagaimana foto dapat menghindarkan sebuah kebudayaan dari kemungkinan berhenti sebagai eksotika, selama kita bersedia melihatnya lebih lama. Pakaian, upacara, wajah, benda, dan lanskap memang dapat menjadi sesuatu yang menarik secara visual. Tetapi ketika perhatian tidak berhenti pada bentuk, kita mulai menemukan pengetahuan di baliknya. Kita mulai memahami bahwa sebuah ritus tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari ingatan, keyakinan, hubungan sosial, dan pengetahuan yang membuatnya terus memiliki tempat dalam kehidupan.
Mungkin di situlah “Resume Kebudayaan” menemukan maknanya bagi saya. Saya tidak sedang berusaha merangkum masyarakat Tengger ke dalam beberapa foto, sebagaimana saya juga tidak sedang merangkum karya para fotografer ke dalam sebuah penilaian. Saya hanya sedang mencatat apa yang tertinggal setelah pengalaman melihat. Beberapa gambar, sebuah percakapan tentang Kalender Tengger, dan kesadaran bahwa di balik apa yang tampak sederhana terdapat cara yang panjang untuk memahami kehidupan.
Ketika meninggalkan lorong Wisma Jerman, saya tidak membawa kesimpulan tentang Yadnya Karo. Saya membawa perubahan kecil dalam cara memandang. Foto-foto itu membuat saya memahami bahwa melihat sebuah kebudayaan tidak selalu dimulai dari pengetahuan. Kadang-kadang ia dimulai dari sebuah gambar yang membuat kita berhenti, lalu bertanya. Dalam ruang yang kecil antara mata dan foto itulah pengalaman estetis berubah menjadi pengalaman kultural. Fotografer telah membuka ruang tersebut melalui karya mereka. Selebihnya, penonton datang dengan mata dan kehidupan masing-masing untuk mengisinya.







Be First to Comment