Press "Enter" to skip to content

MEMBACA PROBLEMATIKA PENDIDIKAN HARI INI: DARI GURU HINGGA MASYRAKAT

Resensi Buku | Penulis : Muhammad Rifai Nugroho

Ulasan kritis buku Andai Aku Menteri Pendidikan karya Alfian Bahri yang membahas problematika pendidikan Indonesia, mulai dari guru konten kreator, kesejahteraan guru, hingga peran masyarakat dan keluarga.


Pendidikan di Indonesia hari ini masih menemukan titik terangnya menuju pendidikan yang ideal. Beban guru semakin berat, gaji yang masih belum menemukan titik sejahteranya, hingga problematika murid di Indonesia. Melihat problematika tersebut seolah muncul sebuah pertanyaan, “apa yang dapat kita lakukan ketika menjadi sebuah menteri pendidikan di Indonesia untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia?”

Dalam hal ini, Alfian Bahri mencoba menawarkan gagasannya melalui bukunya, Andai Aku Menteri Pendidikan: Problematika Citra, Pesta, Dan Masa Depan. Ia mengajak pembacanya untuk melihat bagaimana persoalan pendidikan selama ini layaknya lingkaran setan yang tak pernah usai, seolah ia dengan lantang mengatakan bahwa persoalan pendidikan justru menjelma menjadi hal yang paling menjijikkan. Sebagai pembaca, kita pada halaman pertama diberikan sebuah tulisan kritik pedasnya bahwa pendidikan di Indonesia terlalu mementingkan kesan dan citra dibandingkan kualitas. Ia menyoroti bagaimana dunia konten kreator tidak berdasarkan latar belakang kalangan tertentu, tetapi semua kalangan sekarang berlomba-lomba menjadi konten kreator, tak terkecuali pemerintah sendiri. Guru yang digadang-gadang sebagai sosok yang mampu mencerdaskan bangsa dari kebodohan menjadi sosok koten kreator yang menebarkan citra baik mengenai pendidikan berkedok “berbagi praktik baik.” Pernyataan ini seolah guru pada akhrinya memiliki dua identittas, yakni sebagai pengajar sekaligus konten kreator.

Permasalahan guru konten kreator menjadi sebuah masalah apabila akhirnya harus menjadikan muridnya sebuah model gratis demi keuntungan sang guru. Mengapa? Sebab ketika guru menjadi konten kreator, maka ia akan menggunakan muridnya dengan gratis untuk dijadikan model demi meningkatkan popularitas sang guru, seperti sang guru mendapatkan predikat guru yang mampu mengajar muridnya dengan baik dan semacamnya. Tak berhenti disitu, guru yang menjelma konten krator ini akan memanfaatkan muridnya menjadi model iklan endorse yang ia dapatkan dan secara gratis menggunakan muridnya untuk hal tersebut. Hal ini jelas bahaya karena seolah mengaburkan fakta bahwa pendidikan Indonesia hari ini masih jauh dari kata baik, bahkan murid harus menjadi korban eksploitasi demi keuntungan sang guru. Alfian mengatakan fenomena semacm ini merupakan bentuk dari kapitalisme digital dan membentuk sebuah kasta dalam kerguruan yang sanagt diskriminatif. Adanya guru konten kreator akhirnya membuat konflik horizontal sesama guru karena adanya perbedaan identitas.

Parahnya, guru konten kreator yang awalnya hanya sekedar untuk berbagi praktik baik akhrinya terjebak pada pemolesan citra pendidikan. Contoh, ketika kita melihat sebuah konten dari guru mengenai murid yang ia ajar menjadi aktif banyak yang menyanjung bahwa guru sudah berhasil dalam menciptakan murid yang berkualitas, tetapi di sisi lain, kita melihat bagaimana kualitas murid masih jauh dari kata bagus. Hal ini yang nantinya akan menjadi ajang promosi oleh pemerintah bahwa pendidikan kita seolah semakin membaik karena hasil konten dari guru konten kreator.

Pendidikan hari ini juga mengalami sebuah efek cobra, yakni istilah yang dipakai oleh Iswandi Saputra mengenai fenomena masuknya artikel yang dipublikasi nir-etika dan rendah kulitas, tetapi tinggi kuantitasnya. Dalam lingkup perguruan tinggi, efek cobra seringkali melakukan hal nir-etika, seperti melakukan hal apapun, seperti mengeksplotasi mahasiswanya dengan memberi tugas berupa publikasi dengan dalih nilai UAS. Hal ini menyebabkan iklim pendidikan menjadi tidak sehat karena intergtitas seorang dosen dipertanyakan. Namun, hal ini tidak terjadi pada lingkup perguruan tinggi, tetapi pada pendidikan umum terjadi hal semacam ini. Hal ini dapat dilihat dari pemerintah selalu berbicara mengenai kuantitas semata, tetapi kualitas jarang sekali dibicarakan, seperti angka implementasi Kurikulum Merdeka di era Nadiem Makarim. Fenomena ini membuktikan bahwa pendidikan kita seringkali hanya sekdar kejar target supaya terlihat sukses.

Dibalik itu problematika guru yang seringkali abai akan tugasnya sebagai pendidik, mereka juga mengalami kendala finansial yang memberatkan. Alfian mengajak kita berpikir, dimana sebenarnya posisi seorang guru dihadapan pemerintah(hal 41). Sebab ketidakjelasan mengenai posisi guru sebagai profesi, buruh, bahkan budak pendidikan, terutama guru honorer yang mendapatkan gaji dibawah rata-rata. Ditambah Undang-Undang mengenai tenaga pendidik masih menjadi sebuah persoalan serius. Bahkan, Alfian juga mengkritik dinamika dunia keguruuan yang terpolarisasi, mulai ASN hingga honorer, yang mana hal tersebut suara guru terpecah dan guru dengan ststus ASN jarang sekali membela mereka yang masih honorer, sehingga nasib-nasib guru honorer cenderung diam di tempat. Hal ini lah yang akhirnya membuat kualitas guru cenderung rendah karena salah satu faktornya adalah gaji yang rendah membuat para guru harus bertahan hidup dikondisi yang amat sulit.

Selain pemerintah dan pihak sekolah mengusahakan pendidikan bagi bangsa, sudah seharusnya kita menyadari bahwa kualitas murid tidak tergantung pada sekolah semata, tetapi pihak keluarga dan masyarakat harus saling membahu demi terwujudnya kualitas sang murid. Kualitas murid bukan hanya tentang mereka bisa baca, menulsi dan berhitung (calistung) semata, tetapi karakter juga menjadi sebuah indikator keberhasilan seorang murid. Dalam hal ini, masyarakat dan keluarga juga berkontribusi untuk menjadi pengawas dalam pengemabngan karakter anak supaya seorang anak selain mejadi terdidik juga berkarakter baik.

Pada akhrinya, Alfian Bahri mengajak kita untuk membaca problematika yang menyelimuti dunia keguruan, khususnya mengenai kesejahteraan, polariasasi guru, hingga peran masyarakatvdan keluarga dalam membangun bangsa yang cerdas dan berkarakter. Buku dengan jumlah halaman 116 setidaknya membuat kita merefleksikan diri bersama, “apakah dunia pendidikan Indoensia hari ini sudah berjalan dengna baik atau justru sebaliknya.”

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *