Press "Enter" to skip to content

Pagelaran Kentrung Blang Bleng Ki Ompong Soedharsono dan Adnan Guntur di Sampun Nusantara

citizen |foto: Reza Fernanda

Pagelaran Kentrung Blang Bleng oleh Ki Ompong Soedharsono dan pembacaan puisi Adnan Guntur digelar Carawalakata Movement di Sampun Nusantara. Acara ini menghadirkan edukasi seni tradisi bagi generasi muda dan memperlihatkan relevansi kentrung dalam kehidupan budaya saat ini.


Pagelaran Kentrung Blang Bleng yang digelar Carawalakata Movement di pelataran Sampun Nusantara pada Minggu 7 Desember 2025 menempatkan seni tradisi sebagai pusat kegiatan budaya. Acara ini dirancang sebagai upaya edukasi bagi generasi muda. Penyelenggara menyiapkannya melalui kerja kolektif yang mengandalkan gotong royong. Panggung kecil dari kayu dan rangka besi menjadi titik tempat dua penampil hadir dengan peran yang saling mengisi.

Ki Ompong Soedharsono menjadi penampil utama. Ia merupakan dalang yang pernah belajar kepada Ki Manteb Soedharsono. Ia banyak mengisi panggung di berbagai kota melalui perjalanan tur seorang diri. Selain pertunjukan wayang pakem, ia juga tampil dengan bentuk kontemporer yang menyesuaikan lokasi dan audiens. Ia kerap mengisi dongeng untuk anak sebagai cara mengenalkan nilai kebajikan melalui seni. Pada acara ini ia membawakan lakon Angon Angen Angen. Cerita ini berpusat pada gagasan tentang memelihara harapan baik untuk masa mendatang. Harapan itu dijaga melalui tindakan kebajikan agar perjalanan manusia tidak lepas dari nilai yang mendukung kehidupan.

Sebelum pertunjukan utama, Adnan Guntur tampil sebagai pembuka. Ia merupakan sastrawan asal Banten. Ia juga akademisi sastra Indonesia di sebuah kampus negeri di Surabaya. Ia mendirikan penerbitan independen bernama Penerbit Lumpur. Ia aktif mengajar kepenulisan di ruang kolektif. Pada malam itu ia membacakan puisi pilihan yang ia siapkan sebagai pengantar suasana. Pembacaan ini memberi fokus awal bagi penonton sebelum memasuki alur cerita kentrung.

Pembacaan puisi oleh Adnan Guntur

Ruang acara berada di pelataran Sampun Nusantara. Tempat ini berfungsi sebagai wahana edukasi alternatif dengan pendekatan seni dan ekologi. Ruang ini terbuka bagi komunitas yang ingin berkegiatan. Pertunjukan malam itu memperlihatkan bagaimana fungsi ruang dijalankan melalui pertemuan antara tradisi dan aktivitas budaya kontemporer. Penonton duduk berdekatan. Ada yang memilih kursi bambu. Ada yang mengambil tempat di tanah. Mereka menyimak cerita tanpa banyak percakapan. Kamera ponsel terangkat pada beberapa momen. Dukungan mereka memperlihatkan bahwa masyarakat memberi tempat bagi kesenian tradisi untuk terus hidup.

Carawalakata Movement merancang pagelaran ini sebagai bentuk pemeliharaan terhadap eksistensi kentrung. Mereka memilih menghadirkannya di ruang publik agar seni yang bertahan melalui cerita lisan tidak kehilangan relevansi. Pertunjukan Ki Ompong Soedharsono memperlihatkan bahwa tradisi dapat bergerak bersama masyarakat modern tanpa kehilangan karakter. Pembacaan puisi oleh Adnan Guntur menegaskan bahwa seni dapat saling menguatkan ketika ditempatkan dalam satu rangkaian acara.

penonton yang datang dipagelaran Kentrung Blang-Bleng

Malam itu menunjukkan bahwa seni tradisi bukan sekadar warisan. Ia merupakan praktik budaya yang masih dijalankan oleh pelaku yang memahami nilai historis dan relevansinya hari ini. Dukungan penonton menjadi bagian dari upaya memperpanjang perjalanan kentrung di tengah perubahan. Sampun Nusantara menjadi ruang tempat proses ini berlangsung secara terbuka.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *