Press "Enter" to skip to content

Revolusi Tidak Dimulai dari Rak Buku

Esai Opini

Esai opini kritik sosial tentang seruan membaca di tengah kehidupan pekerja yang kelelahan. Mengulas relasi literasi, kapital buku, dan sejarah revolusi yang tidak selalu lahir dari budaya membaca.


Membaca untuk Siapa. Kritik Seruan Literasi di Tengah Kehidupan Pekerja

Di banyak ruang publik seruan membaca diulang terus. Sekolah mempromosikan gerakan membaca. Pemerintah membuat program literasi. Aktivis membuka lapak buku di trotoar. Diskusi buku digelar di kafe, taman, dan ruang komunitas. Media sosial dipenuhi ajakan membaca.

Semua berbicara dengan satu nada. Membaca adalah jalan menuju kesadaran.

Kalimat ini terdengar benar. Namun ketika kita melihat kehidupan sosial secara lebih dekat, sebuah pertanyaan muncul. Pertanyaan ini jarang diajukan secara terbuka.

Membaca itu untuk siapa.

Seruan membaca sering terdengar seperti hukum moral. Seolah setiap orang yang hidup di masyarakat modern harus membaca. Jika tidak membaca maka ia dianggap malas berpikir. Jika tidak membaca maka ia dianggap tidak sadar.

Masalahnya kehidupan manusia tidak berjalan di ruang yang seragam.

Seorang buruh bangunan memulai hari ketika matahari baru muncul. Ia mengangkat pasir, semen, batu bata. Ia berdiri di bawah panas selama berjam-jam. Tubuhnya dipaksa bekerja tanpa henti. Ketika malam datang, yang tersisa hanya kelelahan.

Seorang pedagang pasar bangun ketika kota masih gelap. Ia datang sebelum subuh untuk membuka lapak. Ia melayani pembeli hingga siang hari. Ia berdiri sepanjang waktu. Ia pulang dengan tubuh yang habis.

Di jalan kota hidup orang-orang dengan pekerjaan yang tidak stabil. Pengamen, pemulung, pengangkut barang, penjual makanan keliling, pengemudi ojek. Banyak dari mereka hidup dari penghasilan harian. Hari tanpa kerja berarti hari tanpa makan.

Di tengah kehidupan seperti itu muncul suara yang berkata bahwa mereka harus membaca.

Jawaban yang sering diberikan sederhana. Sekarang banyak lapak baca gratis. Buku tersedia tanpa biaya. Tinggal persoalan niat.

Jawaban ini terdengar rasional. Namun ia terlalu mudah. Ia melihat persoalan membaca hanya dari sudut kemauan pribadi. Ia menutup mata terhadap kondisi sosial yang membentuk kehidupan manusia.

Pekerja kasar tidak hanya menghadapi kelelahan fisik. Mereka juga menghadapi kelelahan mental. Pikiran mereka dipenuhi kecemasan sehari-hari. Harga beras. Biaya sekolah anak. Sewa rumah. Hutang kecil yang menunggu dibayar.

Energi yang tersisa setelah semua itu sering sangat sedikit. Membaca bukan aktivitas ringan. Membaca membutuhkan fokus. Membaca membutuhkan waktu yang tidak terganggu. Membaca membutuhkan tubuh yang tidak terlalu lelah.

Bagi sebagian orang membaca adalah rekreasi intelektual. Bagi banyak orang lain membaca adalah kerja tambahan setelah hari yang sudah sangat berat.

Seruan membaca sering lahir dari kelompok sosial yang memiliki waktu luang lebih besar. Mahasiswa, akademisi, pekerja kreatif, atau kelas menengah kota. Mereka memiliki akses pendidikan dan ruang waktu yang lebih longgar.

Dari ruang sosial itu lahir keyakinan bahwa membaca adalah kebutuhan universal.

Keyakinan ini bermasalah karena ia mengabaikan struktur kehidupan yang tidak setara.

Masalah menjadi lebih kompleks karena seruan membaca tidak hanya datang dari aktivis literasi. Industri buku juga mengulangnya.

Penerbit membutuhkan pembeli. Toko buku membutuhkan pasar. Festival literasi membutuhkan sponsor. Buku adalah medium pengetahuan sekaligus komoditas.

Seruan membaca berjalan berdampingan dengan logika ekonomi. Semakin banyak orang membaca, semakin besar pasar buku.

Di sini muncul ironi yang jarang dibicarakan. Kampanye membaca sering dibungkus sebagai proyek emansipasi. Namun di dalamnya ada kepentingan ekonomi yang nyata.

Hal ini tidak berarti industri buku harus disalahkan. Industri memang perlu hidup. Penulis perlu dibayar. Penerbit perlu bertahan. Namun ketika membaca dipromosikan sebagai kewajiban moral universal, kritik perlu diajukan.

Orang miskin dipaksa menanggung dua beban sekaligus. Mereka harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Mereka juga diminta membaca agar dianggap sadar.

Pertanyaan awal kembali muncul dengan lebih tajam.

Seruan membaca ini sebenarnya ditujukan kepada siapa.

Jika kita melihat sejarah perubahan sosial besar, hubungan antara membaca dan kesadaran politik tidak selalu berjalan lurus.

Banyak revolusi lahir di tengah masyarakat yang tingkat literasinya rendah.

Revolusi Prancis pada 1789 sering dipahami sebagai kemenangan gagasan pencerahan. Nama Jean Jacques Rousseau, Voltaire, dan Montesquieu sering disebut sebagai sumber inspirasi.

Namun realitas sosial saat itu jauh lebih kasar.

Sebagian besar rakyat Prancis yang menyerbu penjara Bastille adalah pekerja kota dan petani miskin. Mereka bukan pembaca filsafat politik. Tingkat melek huruf di pedesaan Prancis pada akhir abad ke delapan belas masih rendah.

Petani yang hidup di desa-desa tidak membaca kontrak sosial karya Rousseau. Mereka tidak membaca kritik Voltaire terhadap gereja.

Mereka memberontak karena pajak yang menindas. Harga roti melonjak. Tanah dikuasai bangsawan. Mereka hidup dalam kelaparan.

Pada tahun 1788 panen gagal di banyak wilayah. Harga roti naik drastis. Bagi rakyat miskin roti adalah makanan utama. Ketika harga roti naik, hidup mereka runtuh.

Kemarahan itu menumpuk. Pada Juli 1789 rakyat Paris menyerbu Bastille. Mereka mencari senjata. Mereka ingin melawan kekuasaan yang dianggap menindas.

Revolusi tidak dimulai dari klub baca. Ia dimulai dari perut kosong.

Contoh lain dapat dilihat pada Revolusi Rusia tahun 1917.

Kekaisaran Rusia pada awal abad kedua puluh adalah masyarakat dengan tingkat buta huruf yang tinggi. Di banyak wilayah pedesaan sebagian besar petani tidak bisa membaca.

Tentara Rusia yang dikirim ke Perang Dunia Pertama juga berasal dari latar belakang petani. Banyak dari mereka tidak pernah menyelesaikan pendidikan dasar.

Namun justru dari kelompok inilah pemberontakan besar muncul.

Pada Februari 1917 perempuan pekerja tekstil di Petrograd turun ke jalan menuntut roti. Demonstrasi mereka berkembang menjadi gelombang protes besar. Buruh pabrik bergabung. Tentara yang diperintahkan menembak justru berbalik melawan perwira mereka.

Kekaisaran runtuh dalam hitungan hari.

Beberapa bulan kemudian kelompok Bolshevik yang dipimpin Vladimir Lenin mengambil alih kekuasaan.

Banyak buruh dan tentara yang mendukung revolusi tidak pernah membaca teori sosial secara sistematis. Mereka bergerak karena pengalaman hidup mereka sendiri.

Upah yang rendah. Kondisi kerja yang brutal. Perang yang memakan jutaan nyawa. Kekuasaan aristokrasi yang tidak peduli pada penderitaan rakyat.

Para agitator Bolshevik memang menyebarkan pamflet. Namun di banyak tempat pamflet itu dibacakan keras-keras kepada buruh yang tidak bisa membaca. Diskusi berlangsung secara lisan.

Kesadaran politik menyebar melalui percakapan.

Perang Saudara Spanyol pada 1936 memberikan gambaran serupa.

Ketika pasukan fasis mencoba merebut kekuasaan, rakyat dari berbagai kota dan desa mengangkat senjata. Buruh pabrik di Barcelona mengambil alih pabrik mereka. Petani di Aragon membentuk kolektif pertanian.

Banyak kombatan yang melawan pasukan fasis adalah buruh kasar dan petani. Mereka tidak semua memiliki pendidikan tinggi. Banyak yang belajar politik melalui serikat pekerja, rapat umum, dan organisasi kolektif.

George Orwell yang bergabung dengan milisi republik dalam perang itu menulis tentang suasana unik di Barcelona. Hierarki sosial runtuh. Buruh yang sebelumnya hidup di bawah majikan sekarang mengatur tempat kerja mereka sendiri.

Semangat revolusioner itu lahir dari pengalaman hidup bersama, bukan dari kewajiban membaca buku teori.

Contoh lain dapat dilihat pada Revolusi Haiti pada akhir abad ke delapan belas. Para budak Afrika yang memberontak melawan kolonialisme Prancis sebagian besar tidak bisa membaca. Namun mereka mampu mengorganisasi pemberontakan besar yang akhirnya menghancurkan sistem perbudakan.

Sejarah menunjukkan sesuatu yang jelas. Massa tidak selalu bergerak karena membaca.

Massa bergerak karena pengalaman hidup yang tidak lagi dapat ditoleransi.

Petani memberontak karena tanah dirampas. Buruh mogok karena upah tidak cukup. Tentara menolak perang karena kematian tidak ada artinya.

Kesadaran politik sering muncul dari pengalaman yang sangat konkret.

Membaca dapat memperdalam pemahaman. Buku dapat memberikan bahasa untuk menjelaskan ketidakadilan. Namun membaca bukan satu-satunya sumber kesadaran.

Masalah muncul ketika membaca dijadikan ukuran utama kesadaran sosial.

Logika ini menghasilkan elitisme baru.

Orang yang membaca merasa lebih sadar. Orang yang tidak membaca dianggap kurang sadar. Pembaca menempatkan diri dalam posisi moral yang lebih tinggi.

Padahal seorang buruh yang menghadapi eksploitasi setiap hari mungkin memahami kekuasaan dengan sangat jelas tanpa membaca teori ekonomi politik.

Seorang petani yang kehilangan tanahnya mungkin memahami struktur kekuasaan lebih tajam dibanding seseorang yang membaca banyak buku tetapi tidak pernah bersentuhan dengan realitas itu.

Pengalaman hidup adalah sekolah politik yang keras.

Seruan membaca yang tidak mempertimbangkan kenyataan ini sering berubah menjadi khotbah kelas menengah.

Ia terdengar mulia, tetapi sering tidak menyentuh kehidupan orang yang benar-benar berada di bawah tekanan ekonomi.

Jika masyarakat ingin memperluas budaya membaca, persoalannya tidak bisa disederhanakan menjadi soal niat.

Persoalan utamanya adalah waktu dan energi.

Siapa yang memiliki waktu untuk duduk tenang dan membaca. Siapa yang memiliki tubuh yang tidak terlalu lelah untuk berkonsentrasi.

Selama jutaan orang dipaksa bekerja sepanjang hari hanya untuk bertahan hidup, membaca akan tetap menjadi kemewahan bagi banyak orang.

Budaya membaca tidak bisa dipisahkan dari struktur ekonomi.

Jika masyarakat benar-benar ingin menciptakan masyarakat yang membaca, maka yang perlu diperjuangkan bukan hanya perpustakaan gratis atau lapak buku di trotoar.

Yang perlu diperjuangkan adalah kehidupan yang memberi manusia waktu untuk berpikir.

Jam kerja yang lebih manusiawi. Upah yang cukup. Kondisi hidup yang tidak terus menerus menekan.

Tanpa itu semua, seruan membaca akan terus terdengar seperti suara dari dunia yang berbeda.

Suara yang datang dari ruang yang memiliki waktu luang, lalu diarahkan kepada mereka yang hampir tidak memiliki waktu untuk bernapas.

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *