SASTRA | Penulis : Lindu Baskara
Naskah satir politik tentang Marmoyo, terminal Bungurasih, dan kekuasaan yang lahir dari kompromi, ketakutan, dan demokrasi semu. Kritik tajam dalam format teater realis.
Marmoyo dan Tangga dari Langit Palsu adalah naskah teater satir yang membedah kekuasaan dari ruang paling profan: terminal. Melalui bahasa realisme sosial dan ironi politik, naskah ini menyoroti demokrasi, ketakutan, dan bagaimana rakyat perlahan dilatih untuk diam.
PROLOG Tentang Marmoyo dan Tangga yang Turun dari Langit Palsu
Lampu redup. Suara terminal. Klakson seperti doa yang gagal dikabulkan.
PADUAN SUARA TERMINAL
Di negeri ini, kekuasaan jarang lahir dari rahim keutamaan. Ia lebih sering jatuh, seperti tangga, menimpa kepala yang sedang siap memanjat.
Namanya Marmoyo. Ia besar bukan dari pendidikan, melainkan dari pengamatan. Ia belajar hukum dari orang-orang yang tak pernah dibela hukum.
Di Bungurasih, ia tahu satu rahasia negara. Siapa menguasai antrean, ia menguasai rakyat.
Ketika negara sibuk membangun citra, Marmoyo membangun jaringan. Ketika elit bicara etika, ia menguasai logistik ketakutan. Dan ketika demokrasi membuka pintu belakang, Marmoyo masuk dengan sepatu penuh lumpur, namun tangan bersih dari rasa malu.
Maka suatu hari, ia ketiban ondo”tangga kekuasaan yang licin oleh kompromi”.
Gelap.
BABAK I Terminal yang Mengaku Keraton
Bangku plastik jadi singgasana. Spanduk: “KERATON BUNGURASIH”.
Marmoyo Aku raja dari tempat orang ingin pergi. Itu lebih berbahaya daripada raja dari tempat orang ingin tinggal.
Mbah Karcis Keraton kok karcisnya sobek, Sinuwun.
Marmoyo Justru itu tandanya sah. Negeri ini dibangun dari tiket sekali jalan.
Nyai Klakson Dulu Bungurasih cuma terminal. Sekarang istana. Besok mungkin kuburan nurani.
Tertawa pahit.
BABAK II Jalur Bromocorah
Preman berganti jas. Spanduk kampanye dari karung bansos.
Cak Nglurug Sinuwun, rakyat tidak lapar keadilan. Mereka lapar stabilitas.
Marmoyo Maka beri mereka ketertiban. Kalau perlu, dengan kekerasan yang disahkan.
PADUAN SUARA SAJAK SATIRE
Demokrasi di negeri ini seperti nasi kotak rapat. Isinya sama, dibagikan bergilir, dan basi jika dibuka terlalu lama.
Sorak massa bayaran.
BABAK III Istana dan Administrasi Dosa
Marmoyo kini resmi Bupati.
PENGUMUMAN Hadir Bupati Surabaya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo Purabaya Kaping I.
Marmoyo lirih Gelar panjang untuk menutupi riwayat pendek.
Mbah Karcis Sinuwun, sampeyan naik bukan karena bersih, tapi karena sistem butuh orang kotor untuk membersihkan yang lebih kotor.
INTERMEZZO GLOBAL Sajak untuk Dunia yang Munafik
Lampu biru. Peta dunia muncul.
PADUAN SUARA SAJAK
Di Amerika, demokrasi punya paspor diplomatik. Ia bisa masuk negara lain tanpa izin nurani.
Mereka berkata: “Ini demi kebebasan.” Sambil menculik presiden dalam dongeng, menyeret Maduro simbolik ke ruang interogasi imajiner.
Di televisi, itu disebut penyelamatan. Di sejarah, itu hanya penjajahan yang belajar retorika.
Dan kita di sini menonton, sambil berharap tidak jadi episode berikutnya.
BABAK IV Rakyat dan Ingatan
Nyai Klakson Sinuwun, sampeyan membangun gedung, tapi merobohkan ingatan.
Rakyat Kami aman. Kami diam. Kami lupa.
Marmoyo Itulah prestasi terbaik pemerintah: membuat rakyat cukup kenyang untuk tidak bertanya.
BABAK V Keraton Retak
Singgasana goyah.
Marmoyo Aku raja dari ketakutan yang dilegalkan. Jika aku jatuh, yang runtuh bukan aku, tapi kepura-puraan negeri ini.
Mbah Karcis Sinuwun, kekuasaan tidak tumbang karena oposisi, tapi karena lupa pada asal-usulnya.
EPILOG Doa yang Tidak Masuk APBN
PADUAN SUARA
Tuhan tidak memilih presiden. Ia hanya mencatat siapa yang menindas dan siapa yang diam.
Terminal akan selalu ramai. Keraton akan selalu berganti nama. Tapi sejarah tak pernah benar-benar lupa bau solar di awal kekuasaan.
Suara bus berangkat. Lampu padam.






Be First to Comment