ESAI OPINI
Esai kritis tentang bagaimana kompetisi ideologi berubah menjadi sikap egosentris yang menghambat dialektika dan menjauhkan gerakan dari tujuan pembebasan masyarakat revolusioner.
Kompetisi ideologi menjadi ceruk dalam proses membangun masyarakat revolusioner
Masyarakat revolusioner adalah suatu bentuk tatanan sosial yang lahir dari upaya sadar untuk merombak struktur kekuasaan, relasi produksi, serta pola kesadaran kolektif yang dianggap menindas. Ia bukan sekadar perubahan rezim atau pergantian elite politik. Ia menyentuh fondasi kehidupan bersama. Masyarakat revolusioner menuntut perubahan radikal pada cara manusia bekerja, berpikir, berorganisasi, dan berelasi satu sama lain. Dalam pengertian ini, revolusi tidak hanya bersifat politis, tetapi juga kultural dan epistemologis.
Sejarah memberi banyak contoh. Revolusi Prancis mengguncang feodalisme dan melahirkan konsep kewargaan modern. Revolusi Rusia mengubah kepemilikan alat produksi dan membangun eksperimen sosialisme negara. Revolusi Tiongkok menggabungkan mobilisasi petani dengan proyek transformasi budaya. Namun, setiap revolusi tidak hanya melibatkan konflik antara kelas atau kekuatan sosial. Ia juga melibatkan pertarungan ide. Ideologi menjadi alat analisis, alat mobilisasi, sekaligus alat legitimasi.
Pada titik ini, ideologi memiliki fungsi penting. Ia memberi arah. Ia menyediakan kerangka untuk memahami penindasan. Ia merumuskan tujuan pembebasan. Tanpa ideologi, gerakan revolusioner mudah kehilangan orientasi. Namun, problem muncul ketika ideologi tidak lagi diperlakukan sebagai alat, melainkan sebagai tujuan itu sendiri. Di sinilah kompetisi ideologi berubah menjadi ceruk yang merusak proses membangun masyarakat revolusioner.
Kompetisi ideologi dalam konteks ini bukan sekadar perbedaan pandangan. Perbedaan adalah hal yang wajar dalam tradisi berpikir dialektis. Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan itu berubah menjadi pertarungan identitas yang kaku. Setiap kelompok mengklaim dirinya sebagai pemilik kebenaran. Setiap argumen tidak lagi ditujukan untuk mencari sintesis, melainkan untuk mengalahkan lawan. Diskursus berubah menjadi arena pembuktian superioritas. Di sinilah gerakan revolusioner mulai kehilangan arah.
Sejarah gerakan kiri internasional memberi gambaran yang jelas. Pada awal abad ke dua puluh, perpecahan antara berbagai faksi dalam gerakan sosialis sering kali lebih tajam daripada konflik mereka dengan kekuatan kapitalisme. Perdebatan antara reformis dan revolusioner, antara sentralisme dan demokrasi internal, antara strategi parlementer dan aksi langsung, sering kali berujung pada fragmentasi organisasi. Alih alih memperkuat gerakan, kompetisi ideologi ini justru melemahkan kapasitas kolektif.
Di Uni Soviet setelah revolusi, konflik internal dalam partai tidak jarang berakhir dengan represi. Perbedaan ide dianggap sebagai ancaman. Dialektika dibekukan. Ideologi resmi dijaga seperti dogma. Hal ini menunjukkan paradoks. Revolusi yang bertujuan membebaskan manusia justru menghasilkan struktur yang mengekang kebebasan berpikir. Kompetisi ideologi tidak hilang. Ia berubah bentuk menjadi perebutan otoritas dalam menentukan tafsir yang sah.
Di Tiongkok, Revolusi Kebudayaan memperlihatkan bagaimana ideologi bisa digunakan sebagai alat untuk menyerang lawan politik. Retorika revolusioner dipakai untuk membenarkan tindakan yang pada dasarnya adalah perebutan kekuasaan. Massa dimobilisasi bukan untuk membangun kesadaran kritis, tetapi untuk menghancurkan pihak yang dianggap menyimpang. Lagi lagi, ideologi menjadi medan kompetisi yang destruktif.
Dalam banyak kasus, kompetisi ideologi melahirkan sikap egosentris di kalangan kaum ideologis. Egosentris di sini bukan sekadar sifat personal. Ia adalah sikap kolektif yang menempatkan identitas ideologis sebagai pusat segalanya. Setiap analisis disaring melalui kepentingan mempertahankan identitas tersebut. Setiap kritik dianggap sebagai serangan. Setiap dialog berubah menjadi monolog yang dipaksakan.
Sikap ini berbahaya karena menghambat proses dialektis. Dialektika menuntut keterbukaan terhadap kontradiksi. Ia menuntut kemampuan untuk melihat kelemahan dalam posisi sendiri dan kekuatan dalam posisi lain. Ia menuntut gerak. Namun, egosentrisme ideologis membekukan gerak tersebut. Ia menciptakan zona nyaman di mana kebenaran dianggap sudah final. Tidak ada ruang untuk revisi. Tidak ada ruang untuk belajar.
Akibatnya, gerakan revolusioner terjebak dalam lingkaran steril. Energi habis untuk perdebatan internal. Waktu tersita untuk menentukan siapa yang paling murni secara ideologis. Sementara itu, realitas sosial terus bergerak. Penindasan mengambil bentuk baru. Kapitalisme beradaptasi. Negara memperkuat kontrol. Namun, kaum ideologis sibuk dengan pertarungan simbolik yang semakin jauh dari kebutuhan konkret rakyat.
Ada kecenderungan untuk meromantisasi kemurnian ideologi. Setiap penyimpangan kecil dianggap sebagai pengkhianatan. Setiap kompromi taktis dilihat sebagai kemunduran. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa revolusi selalu melibatkan kompleksitas. Ia melibatkan negosiasi, strategi, dan adaptasi. Menolak kompleksitas berarti menolak realitas. Dalam kondisi seperti ini, ideologi berubah menjadi doktrin yang kaku. Ia tidak lagi mampu membaca situasi.
Egosentrisme ideologis juga menciptakan hierarki moral. Kelompok tertentu menganggap dirinya lebih sadar, lebih radikal, lebih benar. Mereka menempatkan diri sebagai penjaga gerbang. Mereka menentukan siapa yang layak disebut revolusioner dan siapa yang tidak. Sikap ini tidak hanya eksklusif. Ia juga merusak solidaritas. Aliansi yang seharusnya dibangun menjadi sulit karena setiap perbedaan kecil dibesar besarkan.
Lebih jauh, kompetisi ideologi yang egosentris menciptakan jurang dialektika. Jurang ini muncul ketika perbedaan tidak lagi diperlakukan sebagai kontradiksi yang produktif, tetapi sebagai pemisah yang absolut. Setiap posisi berdiri sendiri tanpa upaya untuk menemukan titik temu. Dialog berubah menjadi pertukaran slogan. Bahasa menjadi alat untuk menutup, bukan membuka.
Jurang ini memperdalam fragmentasi. Gerakan yang seharusnya bersatu dalam tujuan pembebasan terpecah menjadi kelompok kecil dengan agenda masing masing. Setiap kelompok memiliki publikasi sendiri, forum sendiri, bahkan jargon sendiri. Mereka berbicara dalam bahasa yang hanya dipahami oleh sesama anggota. Hubungan dengan massa menjadi lemah. Gerakan kehilangan akar.
Di banyak negara berkembang, fenomena ini terlihat dalam gerakan mahasiswa dan organisasi kiri. Diskusi sering kali dipenuhi dengan kutipan teori yang rumit, tetapi minim hubungan dengan realitas sehari hari. Kompetisi terjadi dalam hal siapa yang paling banyak membaca, siapa yang paling fasih menggunakan istilah teoritis, siapa yang paling radikal dalam retorika. Namun, ketika berhadapan dengan masalah konkret seperti buruh yang dipecat atau petani yang kehilangan tanah, respon sering kali lambat dan tidak terkoordinasi.
Kondisi ini menunjukkan adanya pemisahan antara teori dan praksis. Ideologi diperlakukan sebagai wilayah yang terpisah dari tindakan. Ia menjadi semacam identitas intelektual. Orang merasa cukup dengan menguasai teori tanpa harus terlibat dalam kerja organisasi yang panjang dan melelahkan. Dalam situasi ini, kompetisi ideologi menjadi ajang pembuktian diri. Ia memberi kepuasan simbolik tanpa menghasilkan perubahan nyata.
Ada juga dimensi psikologis yang tidak bisa diabaikan. Egosentrisme ideologis sering kali berkaitan dengan kebutuhan akan pengakuan. Dalam ruang gerakan yang penuh ketidakpastian, identitas ideologis memberi rasa kepastian. Ia memberi rasa memiliki. Ia memberi posisi. Ketika posisi ini terancam oleh perbedaan pandangan, reaksi yang muncul adalah defensif. Orang tidak lagi mendengar argumen. Mereka hanya mendengar ancaman.
Masalahnya, sikap ini tidak hanya menghambat dialektika internal. Ia juga menghambat hubungan dengan masyarakat luas. Bahasa yang digunakan menjadi semakin eksklusif. Analisis menjadi semakin abstrak. Jarak antara gerakan dan rakyat semakin lebar. Masyarakat revolusioner yang diimpikan menjadi sulit tercapai karena subjek yang seharusnya dibebaskan justru tidak terlibat secara aktif.
Dalam konteks ini, perlu ditegaskan kembali bahwa tujuan utama gerakan revolusioner adalah pembebasan. Pembebasan dari penindasan ekonomi, politik, dan kultural. Ideologi seharusnya menjadi alat untuk mencapai tujuan ini. Ia harus fleksibel. Ia harus terbuka terhadap koreksi. Ia harus mampu berdialog dengan realitas. Ketika ideologi menjadi tujuan, gerakan kehilangan arah.
Kritik terhadap kompetisi ideologi bukan berarti menolak perbedaan. Perbedaan adalah sumber dinamika. Yang dikritik adalah cara perbedaan itu dikelola. Ketika perbedaan diubah menjadi identitas yang kaku, ketika diskusi diubah menjadi kompetisi, ketika tujuan pembebasan digantikan oleh kebutuhan untuk menang dalam perdebatan, maka gerakan berada di jalur yang salah.
Diperlukan keberanian untuk keluar dari jebakan ini. Kaum ideologis perlu menggeser fokus dari siapa yang paling benar ke bagaimana mencapai perubahan. Ini berarti membuka ruang dialog yang jujur. Ini berarti mengakui keterbatasan. Ini berarti bersedia belajar dari pengalaman. Ini berarti menempatkan praksis sebagai ukuran utama, bukan retorika.
Sejarah menunjukkan bahwa gerakan yang berhasil adalah gerakan yang mampu mengelola perbedaan secara produktif. Mereka tidak menghapus perbedaan. Mereka mengolahnya. Mereka mencari sintesis tanpa mengorbankan prinsip dasar. Mereka menjaga orientasi pada tujuan bersama. Mereka memahami bahwa ideologi adalah alat yang harus terus diasah.
Tanpa perubahan sikap ini, kompetisi ideologi akan terus menjadi ceruk yang menghisap energi gerakan. Ia akan terus melahirkan egosentrisme. Ia akan terus menciptakan jurang dialektika. Ia akan terus menjauhkan gerakan dari masyarakat. Dalam kondisi seperti ini, masyarakat revolusioner hanya akan menjadi slogan. Ia tidak pernah benar benar terwujud.
Yang diperlukan adalah disiplin kolektif untuk menempatkan ideologi pada posisinya. Ia harus menjadi sarana, bukan tujuan. Ia harus melayani pembebasan, bukan sebaliknya. Ini menuntut perubahan dalam cara berpikir dan bertindak. Ini menuntut kerendahan hati intelektual. Ini menuntut komitmen pada kerja nyata.
Tanpa itu, kaum ideologis akan terus berputar dalam lingkaran yang sama. Mereka akan terus berdebat tentang siapa yang paling benar. Mereka akan terus membangun tembok di antara mereka sendiri. Sementara itu, struktur penindasan tetap berdiri. Masyarakat revolusioner tetap menjadi bayangan yang tidak pernah disentuh.
Dalam kondisi seperti ini, kritik harus disampaikan dengan tegas. Egosentrisme ideologis bukan sekadar kelemahan. Ia adalah hambatan serius. Ia menggerogoti dari dalam. Ia melemahkan potensi transformasi. Ia mengubah energi revolusioner menjadi kebisingan tanpa arah. Jika tidak dihadapi, ia akan terus mengulang kegagalan yang sama.
Membangun masyarakat revolusioner membutuhkan lebih dari sekadar keyakinan ideologis. Ia membutuhkan kemampuan untuk bekerja bersama. Ia membutuhkan kepekaan terhadap realitas. Ia membutuhkan keberanian untuk berubah. Ideologi harus mengikuti kebutuhan ini, bukan menghambatnya. Jika tidak, kompetisi ideologi akan tetap menjadi ceruk yang menjerumuskan, bukan jalan yang membebaskan.








Be First to Comment