Press "Enter" to skip to content

Kematian dalam Tata Kelola

ESAI OPINI

Kemiskinan bukan takdir, melainkan hasil kebijakan. Esai opini ini membongkar bagaimana tata kelola politik, ekonomi, dan sosial menjadikan kemiskinan sebagai kekerasan struktural yang membunuh tanpa pelaku.


Kemiskinan, Kebijakan, dan Pembunuhan yang Tidak Pernah Diakui

Kemiskinan adalah cara membunuh yang paling rapi. Ia tidak membutuhkan pisau, peluru, atau tali. Ia tidak memerlukan pelaku yang berdiri di tempat kejadian. Ia bekerja pelan, konsisten, dan sistematis. Ia menekan hidup sampai batas paling sempit, lalu menunggu. Ketika seseorang runtuh, sistem tidak tercemar. Tidak ada yang ditangkap. Tidak ada yang diadili. Yang tersisa hanya berita singkat dan kesimpulan malas. Bunuh diri. Masalah pribadi. Gangguan mental. Kisah ditutup di sana.

Narasi itu bohong. Ia sengaja dipelihara.

Kemiskinan bukan kondisi netral. Ia bukan kegagalan individu. Ia bukan takdir. Kemiskinan adalah hasil dari keputusan. Keputusan politik, ekonomi, dan sosial yang disusun oleh mereka yang memegang kuasa. Keputusan ini tidak pernah berdiri sendiri. Ia saling menguatkan. Ia menciptakan tekanan hidup yang terus menumpuk. Tekanan itu tidak membunuh dalam satu malam. Ia menggerogoti perlahan sampai hidup tidak lagi terasa layak dijalani.

Di titik inilah kemiskinan berubah menjadi alat pembunuhan. Bersih, sunyi, dan efisien.

Sistem tidak mendorong seseorang untuk mati secara langsung. Sistem mendorong seseorang untuk hidup dalam kondisi yang membuat kematian terasa masuk akal. Upah tidak cukup. Jam kerja panjang. Akses kesehatan terbatas. Pendidikan mahal. Tempat tinggal tidak aman. Identitas tertentu dipinggirkan. Ruang politik ditutup. Setiap hari individu dipaksa bertahan. Setiap hari energi terkuras. Tidak ada waktu untuk pulih. Tidak ada ruang untuk bernapas.

Ketika kelelahan itu mencapai puncak, keputusan yang diambil bukan keputusan bebas. Ia adalah hasil dari akumulasi tekanan yang terus diabaikan. Namun sistem menolak mengakui perannya. Ia menyederhanakan cerita. Ia menyalahkan pikiran korban. Ia mencuci tangannya sendiri.

Inilah kejahatan struktural. Kejahatan yang tidak membutuhkan niat personal. Kejahatan yang berjalan lewat aturan, kebiasaan, dan normalisasi. Kejahatan yang tidak terlihat karena ia disamarkan sebagai kewajaran hidup.

Kamu hidup di dalam sistem ini sejak lahir. Kamu tidak pernah diminta persetujuan. Jalur hidup sudah tersedia. Sekolah. Kerja. Utang. Bertahan. Semua orang di sekitarmu melakukan hal yang sama. Karena itu kamu menganggapnya wajar. Kamu jarang bertanya mengapa hidup harus seperti ini. Mengapa pilihan terasa sempit. Mengapa rasa takut selalu hadir saat ingin menolak.

Rasa takut itu bukan sifat alamiah manusia. Ia dipelajari. Ia ditanamkan. Ia dirawat.

Sejak kecil kamu diajarkan untuk patuh. Patuh pada kurikulum. Patuh pada aturan. Patuh pada standar sukses. Kamu diberi janji. Jika kamu mengikuti jalur ini, hidupmu akan aman. Jika kamu keluar jalur, risikonya tanggung sendiri. Dalam masyarakat yang timpang, risiko bukan dibagi rata. Mereka yang miskin tidak punya bantalan. Satu kesalahan bisa menghancurkan segalanya. Sistem tahu ini. Karena itu kepatuhan menjadi alat kontrol paling efektif.

Kontrol ini tidak menggunakan kekerasan fisik. Ia bekerja lewat pikiran. Lewat bahasa. Lewat narasi. Kamu diajarkan bahwa hidup adalah soal usaha. Bahwa siapa yang gagal berarti kurang bekerja keras. Bahwa penderitaan adalah ujian pribadi. Narasi ini memotong hubungan antara kebijakan dan dampaknya. Ia membuat kemiskinan tampak sebagai masalah moral, bukan masalah politik.

Akibatnya jelas. Ketika kamu gagal, kamu menyalahkan diri sendiri. Ketika orang lain jatuh, kamu diminta untuk tidak mempertanyakan sistem. Kamu diajak berempati sebatas air mata, bukan perubahan. Dengan cara ini, sistem tetap aman.

Kepastian menjadi mata uang utama. Kamu diarahkan untuk memilih yang pasti. Pekerjaan yang stabil walau menindas. Hidup yang sempit asal aman. Kamu didorong untuk takut pada ketidakpastian. Padahal hidup selalu tidak pasti. Kepastian yang dijanjikan sistem hanyalah ilusi. Ilusi yang membuat kamu tetap berjalan di jalur yang menguntungkan segelintir orang.

Mengapa manusia mengejar kepastian dan meninggalkan pengalaman. Karena pengalaman mahal bagi mereka yang tidak punya modal. Gagal bukan sekadar pelajaran. Ia bisa berarti kehilangan rumah, kehilangan akses kesehatan, kehilangan martabat. Sistem menciptakan kondisi di mana keberanian menjadi kemewahan. Yang tersisa hanyalah kepatuhan.

Di sinilah kemiskinan mengikat leher tanpa terlihat. Ia tidak menarik tali secara kasar. Ia membuat tali itu terasa seperti bagian dari tubuh. Kamu lupa bahwa ia ada. Sampai suatu hari kamu kelelahan dan jatuh. Lalu tali itu bekerja.

Media akan datang setelahnya. Dengan bahasa steril. Dengan jarak aman. Mereka tidak akan menyebut upah murah, kebijakan gagal, atau ketimpangan struktural. Mereka akan menulis tentang individu. Tentang kondisi psikologis. Tentang kesedihan keluarga. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Tanpa konteks struktural, pemberitaan hanya memperpanjang kebohongan.

Kemiskinan selalu punya wajah politik. Ia lahir dari siapa yang dilindungi dan siapa yang dikorbankan. Dunia ini memang dipegang oleh segelintir orang. Mereka menguasai modal. Mereka menguasai pengetahuan. Mereka menguasai alat kekerasan. Kepentingan mereka dilembagakan. Diubah menjadi hukum. Dijadikan kebijakan. Dibenarkan oleh wacana.

Kamu tidak perlu teori konspirasi untuk memahami ini. Cukup lihat arah kebijakan. Siapa yang diselamatkan saat krisis. Siapa yang disuruh berhemat. Siapa yang diberi subsidi. Siapa yang dipotong haknya. Semua pilihan itu punya dampak langsung pada hidup dan mati.

Di zaman modern, kekuatan tidak lagi tampil telanjang. Ia bersembunyi di balik istilah teknokratis. Efisiensi. Stabilitas. Pertumbuhan. Kata-kata ini terdengar netral. Padahal di baliknya ada tubuh manusia yang dikorbankan. Ketika kebijakan membuat hidup semakin tidak layak, itu bukan efek samping. Itu hasil.

Psikologi sering dijadikan tameng. Stres, depresi, kecemasan dijelaskan sebagai masalah individu. Jarang dibicarakan bahwa tekanan ekonomi kronis merusak kemampuan berpikir. Bahwa hidup dalam ketidakpastian terus-menerus menggerus harapan. Sistem senang dengan pendekatan ini. Ia bisa menawarkan solusi murah. Motivasi. Ketahanan diri. Tanpa harus mengubah struktur.

Filsafat keadilan menuntut pertanyaan sederhana. Apakah pilihan benar-benar bebas jika alternatifnya adalah kelaparan. Jika jawabannya tidak, maka menyalahkan individu adalah kekerasan lanjutan. Namun pertanyaan ini jarang masuk ruang publik. Ia dianggap mengganggu stabilitas.

Tulisan ini adalah gugatan. Gugatan terhadap kebiasaan berpikir yang malas. Gugatan terhadap sistem yang membunuh tanpa mau mengakui. Gugatan terhadap narasi yang membersihkan tangan penguasa.

Kamu tidak diminta untuk merasa kasihan. Kamu diminta untuk sadar. Bahwa hidup yang kamu jalani diatur oleh rantai sistemik. Bahwa kewajaran yang kamu terima adalah hasil desain. Bahwa ketakutan yang kamu rasakan bukan kelemahan pribadi.

Mengakui kemiskinan sebagai pembunuh berarti menggeser tanggung jawab. Dari korban ke kebijakan. Dari individu ke struktur. Dari nasib ke keputusan. Ini langkah pertama yang selalu ditolak oleh mereka yang diuntungkan.

Selama kemiskinan dipahami sebagai kondisi alamiah, pembunuhan ini akan terus berlangsung. Tanpa suara. Tanpa pelaku. Tanpa keadilan.

Tulisan ini tidak menawarkan penghiburan. Ia menawarkan ketidaknyamanan. Karena hanya dari ketidaknyamanan itulah kesadaran bisa ditarik keluar dari kebiasaan tunduk.

Kemiskinan tidak bekerja sendirian. Ia membutuhkan instrumen. Ia membutuhkan alat yang membuat tekanan itu stabil, berulang, dan tampak sah. Instrumen itu bernama politik, sosial, dan ekonomi. Tiga ciptaan manusia yang sejak awal diklaim sebagai cara mengatur hidup bersama. Padahal hidup tidak pernah bisa diatur sepenuhnya. Hidup bergerak liar, tidak patuh, dan penuh kemungkinan. Justru karena itu tiga instrumen ini diciptakan. Bukan untuk merawat kehidupan, tetapi untuk menjinakkannya.

Sejak politik, sosial, dan ekonomi dilembagakan, hidup manusia berhenti menjadi peristiwa alamiah dan berubah menjadi objek pengelolaan. Manusia tidak lagi hanya hidup, tetapi diatur bagaimana ia boleh hidup. Di sinilah pengendalian mulai bekerja. Bukan sebagai larangan kasar, melainkan sebagai tata cara yang terlihat rasional.

Politik berperan sebagai pengatur arah. Ia menentukan siapa yang berhak memutuskan, siapa yang harus patuh, dan siapa yang boleh diabaikan. Politik tidak netral. Ia selalu berpihak. Setiap hukum adalah hasil pilihan. Setiap kebijakan adalah keputusan tentang hidup siapa yang diprioritaskan dan hidup siapa yang bisa dikorbankan. Ketika politik dikuasai oleh segelintir orang, maka kepentingan merekalah yang dilembagakan sebagai kepentingan umum.

Melalui politik, kemiskinan dilegalkan. Anggaran ditentukan. Perlindungan sosial dibatasi. Upah diatur agar tidak mengganggu kepentingan pemilik modal. Hak dipersempit lewat bahasa teknis. Semua dilakukan atas nama stabilitas dan ketertiban. Politik memberi cap sah pada ketimpangan. Tanpa politik, kemiskinan hanya ketidakadilan. Dengan politik, ia berubah menjadi kebijakan.

Ekonomi berperan sebagai mesin. Ia mengatur produksi, distribusi, dan nilai. Ekonomi menentukan apa yang dianggap produktif dan siapa yang dianggap berguna. Dalam sistem yang timpang, ekonomi tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi untuk mengamankan akumulasi. Kerja manusia direduksi menjadi angka. Waktu hidup diperas menjadi jam kerja. Tubuh menjadi sumber nilai yang bisa dieksploitasi.

Melalui ekonomi, kemiskinan diproduksi dan dipelihara. Upah ditekan agar keuntungan naik. Harga kebutuhan dibiarkan melambung. Akses terhadap sumber daya dikunci oleh modal. Hutang dijadikan jalan keluar palsu. Ekonomi menciptakan ilusi pilihan, padahal jalurnya sempit. Kamu bebas memilih, selama pilihanmu tidak mengganggu sistem.

Sosial berperan sebagai penjaga. Ia membentuk norma, nilai, dan stigma. Ia mengatur apa yang dianggap normal dan apa yang dianggap menyimpang. Melalui tatanan sosial, ketimpangan dinormalisasi. Orang miskin diajarkan untuk tahu diri. Orang kaya diajarkan bahwa posisinya hasil kerja keras. Kritik dianggap iri. Perlawanan dianggap tidak tahu terima kasih.

Sosial memastikan kemiskinan tidak dibaca sebagai kekerasan. Ia dibungkus dengan moral. Kerja keras diagungkan. Kepatuhan dipuji. Ketidakpatuhan dipermalukan. Dengan cara ini, sistem tidak perlu banyak menggunakan paksaan. Masyarakat saling mengawasi. Korban ikut menjaga struktur yang menindasnya.

Tiga instrumen ini tidak berdiri sendiri. Politik memberi payung hukum. Ekonomi memberi insentif. Sosial memberi pembenaran. Ketiganya bekerja serempak. Ketiganya menciptakan inflasi pengendalian. Semakin kompleks instrumennya, semakin halus kontrolnya. Kamu tidak merasa dipaksa, tetapi sulit keluar.

Siapa yang memainkan peran ini. Pemegang otoritas kekuasaan. Mereka yang memiliki kendali atas keputusan, sumber daya, dan narasi. Negara. Korporasi besar. Elit ekonomi. Aparatus hukum. Lembaga pendidikan. Media. Mereka tidak selalu duduk di satu meja. Mereka terhubung oleh kepentingan yang sama. Menjaga sistem tetap berjalan.

Mengapa sistem ini perlu mereka ciptakan. Karena kekuasaan membutuhkan stabilitas. Akumulasi membutuhkan kepastian. Kekayaan besar tidak tumbuh dalam kekacauan. Ia membutuhkan buruh yang patuh, pasar yang terkendali, dan masyarakat yang tidak terlalu banyak bertanya. Politik, ekonomi, dan sosial menjadi alat untuk memastikan itu semua.

Hidup yang liar berbahaya bagi kekuasaan. Ketidakpastian membuka ruang pembangkangan. Pengalaman yang beragam sulit dikendalikan. Karena itu hidup perlu dipersempit. Diberi jalur. Diberi batas. Diberi standar. Ketika manusia bergerak di jalur yang sama, pengelolaan menjadi mudah. Risiko bisa dihitung. Keuntungan bisa diprediksi.

Kemiskinan menjadi komponen penting dalam sistem ini. Ia bukan kegagalan, tetapi alat. Orang yang hidup di bawah tekanan tidak punya energi untuk melawan. Mereka sibuk bertahan. Mereka sibuk menyelamatkan hari ini. Dalam kondisi seperti ini, kritik terasa mewah. Perlawanan terasa berbahaya.

Sistem tidak membutuhkan semua orang miskin. Ia hanya membutuhkan cukup banyak orang berada di ambang. Ambang kehilangan. Ambang takut. Ambang tunduk. Dari situlah disiplin bekerja. Kamu melihat ke bawah dan takut jatuh. Kamu melihat ke atas dan merasa tidak pantas. Posisi ini menjaga ketertiban.

Ketika seseorang akhirnya runtuh, sistem tidak terguncang. Ia justru diperkuat. Runtuhnya individu dijadikan bukti bahwa yang lain harus lebih patuh. Lebih tahan. Lebih realistis. Kematian menjadi pelajaran diam-diam.

Inilah mengapa kemiskinan harus dibaca sebagai instrumen kekuasaan. Bukan sekadar kondisi ekonomi. Ia adalah hasil kerja politik. Ia dijaga oleh tatanan sosial. Ia diproduksi oleh mesin ekonomi. Selama tiga instrumen ini tidak dipertanyakan, pembunuhan bersih ini akan terus berlangsung.

Gugatan ini tidak menolak pengaturan hidup bersama. Ia menolak pengaturan yang menjadikan hidup sekadar variabel. Ia menolak sistem yang menyebut korban sebagai angka. Ia menolak kekuasaan yang bersembunyi di balik prosedur.

Jika hidup memang tidak pernah bisa diatur sepenuhnya, maka setiap upaya mengurungnya harus dicurigai. Karena di balik pengurungan itu, selalu ada kepentingan yang ingin diamankan. Dan hampir selalu, yang dikorbankan adalah mereka yang paling tidak punya pilihan.

 

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *