Press "Enter" to skip to content

Jawa Membaca dan Menjawab Gramsci

Esai

Bagaimana teori hegemoni Antonio Gramsci dibaca dan dilengkapi oleh tradisi tirakat Jawa. Esai kritis tentang kuasa, batin, dan perlawanan sunyi dalam kehidupan modern.


Kita hidup di zaman ketika kuasa jarang tampil sebagai larangan. Ia tidak lagi datang dengan seragam, senjata, atau ancaman terbuka. Kuasa hari ini bekerja lebih rapi. Ia masuk ke dalam selera, ambisi, dan cara kita menilai diri sendiri. Banyak orang merasa bebas, padahal yang mereka jalani adalah hidup yang sudah diarahkan sejak awal. Di titik inilah teori hegemoni Antonio Gramsci menemukan relevansinya kembali.

Gramsci menunjukkan bahwa kekuasaan modern bertahan bukan karena orang dipaksa, tetapi karena orang setuju. Persetujuan itu tidak pernah diminta secara eksplisit. Ia dibentuk pelan-pelan lewat pendidikan, budaya populer, bahasa media, dan definisi tentang apa yang disebut hidup normal. Hegemoni bekerja ketika nilai dominan diterima sebagai akal sehat.

Masalahnya, akal sehat ini sering kali membuat orang kelelahan tanpa sadar. Bekerja tanpa henti dianggap wajar. Ambisi tanpa batas dianggap sehat. Kegelisahan dianggap harga yang harus dibayar demi sukses. Ketika gagal, orang menyalahkan diri sendiri. Struktur sosial menghilang dari pembacaan. Inilah keberhasilan hegemoni. Ia membuat masalah sosial terasa seperti masalah pribadi.

Gramsci memberi kita alat baca yang tajam untuk memahami gejala ini. Ia membantu menjelaskan mengapa ketimpangan bisa bertahan tanpa perlawanan besar. Mengapa orang justru ikut menjaga sistem yang menekan mereka. Namun, di titik tertentu, analisis ini menyisakan satu pertanyaan penting. Jika hegemoni bekerja di wilayah batin dan kesadaran, bagaimana cara individu menjaga batinnya agar tidak terus-menerus menjadi ladang persetujuan?

Pertanyaan ini tidak sepenuhnya dijawab oleh teori. Gramsci kuat dalam memetakan mekanisme kuasa, tetapi tidak memberi panduan rinci tentang pengolahan diri sehari-hari. Perlawanan lebih sering dibayangkan sebagai kerja ideologis, pendidikan politik, atau perebutan wacana. Padahal, sebelum semua itu bekerja di ruang publik, hegemoni sudah lebih dulu bercokol di dalam diri.

Di sinilah tradisi Jawa menjadi relevan untuk dibaca sebagai pelengkap, bukan sebagai pengganti. Bukan sebagai romantisme budaya, bukan pula nostalgia masa lalu. Tradisi Jawa sejak awal berangkat dari kesadaran bahwa medan utama kehidupan bukan hanya dunia luar, tetapi batin manusia itu sendiri. Tempat di mana dorongan, rasa kurang, dan kegelisahan lahir.

Dalam pandangan Jawa, hidup bukan semata arena pencapaian lahir. Hidup dipahami sebagai perjalanan batin. Penderitaan tidak diposisikan sebagai musuh yang harus dihancurkan, melainkan sebagai bagian dari laku hidup yang perlu dipahami dan diolah. Cara pandang ini membuat orang Jawa tidak terburu-buru memusuhi keadaan. Fokusnya bukan mengubah dunia seketika, tetapi menata diri agar tidak runtuh oleh dunia.

Di titik ini, penting membedakan antara laku dan tirakat. Laku adalah sikap hidup yang dijalani terus-menerus. Ia hadir dalam cara berpikir, bersikap, dan mengambil jarak dari dorongan yang berlebihan. Laku membentuk watak batin. Tirakat adalah bentuk laku yang lebih intens dan sadar. Ia adalah latihan khusus untuk menajamkan kesadaran, biasanya dengan pembatasan diri yang sengaja dilakukan.

Dengan kata lain, tirakat bukan sesuatu yang terpisah dari hidup sehari-hari. Ia adalah pendalaman dari laku. Jika laku adalah jalan panjang pengolahan diri, tirakat adalah titik-titik latihan yang membuat jalan itu tetap terjaga arahnya.

Sikap nrimo ing pandum adalah salah satu fondasi laku tersebut. Sikap ini sering disalahpahami sebagai akar kepasrahan sosial. Padahal, nrimo dalam tradisi Jawa bukan menyerah sebelum bertindak. Ia adalah sikap menerima kenyataan setelah usaha dijalankan. Nrimo bukan mematikan kehendak, tetapi menenangkan batin agar tidak dikuasai oleh hasrat yang tidak pernah selesai.

Dalam konteks hegemoni, nrimo justru berfungsi sebagai penyangga batin. Ia mencegah individu larut dalam logika sosial yang terus menuntut lebih. Lebih produktif, lebih sukses, lebih terlihat. Tanpa nrimo, batin terus dipacu oleh standar yang tidak pernah cukup. Hegemoni menemukan jalannya lewat rasa kurang yang terus dipelihara.

Gramsci menjelaskan bahwa hegemoni bekerja dengan membentuk apa yang dianggap wajar. Tradisi Jawa meresponsnya dengan mempertanyakan kewajaran itu dari dalam diri. Ketika seseorang nrimo, ia berhenti bereaksi secara otomatis. Ia tidak langsung menyamakan nilai diri dengan pencapaian lahir. Di titik ini, nrimo bekerja sebagai kesadaran kritis yang tenang.

Konsep eling lan waspada memperdalam kerja ini. Eling berarti ingat diri dan ingat batas. Waspada berarti sadar terhadap dorongan yang muncul dari ambisi dan emosi. Dalam dunia yang penuh rangsangan, eling lan waspada adalah latihan untuk memperlambat respons. Ia menciptakan jarak antara dorongan dan tindakan.

Jika hegemoni bekerja dengan mempercepat persetujuan, eling lan waspada justru memperlambatnya. Orang tidak langsung percaya bahwa semua keinginan adalah kebutuhan. Tidak semua tuntutan sosial diterima sebagai keharusan moral. Kesadaran seperti ini tidak lahir dari teori, tetapi dari laku yang dijalani.

Di sinilah tirakat mengambil peran yang lebih jelas. Tirakat sering disempitkan sebagai praktik spiritual yang eksotis. Padahal, esensinya sederhana dan keras sekaligus. Tirakat adalah latihan membatasi diri secara sadar. Mengurangi makan, mengurangi tidur, mengurangi kesenangan, dan memperbanyak keheningan. Tujuannya bukan menyiksa tubuh, tetapi menertibkan ego.

Dalam masyarakat yang digerakkan oleh konsumsi dan citra, tirakat bekerja sebagai gangguan. Ia menginterupsi kebiasaan memuaskan keinginan secepat mungkin. Dengan tirakat, seseorang belajar bahwa tidak semua dorongan harus diikuti. Dari sini, batin menjadi lebih sunyi dan lebih luas.

Gramsci menunjukkan bahwa hegemoni bertahan karena orang memberi persetujuan tanpa sadar. Tirakat bekerja tepat di wilayah persetujuan itu. Ketika batin dilatih untuk menahan, persetujuan tidak lagi otomatis. Orang mulai bertanya, apakah ini benar kebutuhan saya, atau hanya dorongan yang ditanamkan.

Tirakat tidak melahirkan perlawanan yang gaduh. Ia tidak memproduksi slogan. Ia bekerja perlahan, tetapi dalam. Subjek yang menjalani tirakat menjadi lebih tahan terhadap manipulasi hasrat. Ia tidak mudah digerakkan oleh rasa takut tertinggal atau dorongan untuk terus diakui.

Kebahagiaan dalam tradisi Jawa lahir dari kondisi ini. Bukan kegembiraan yang meledak, tetapi ketentraman yang stabil. Hati yang luwih sepi nanging jembar. Dalam kondisi ini, individu tidak mudah diguncang oleh perubahan nilai dan tekanan sosial.

Jika dibaca bersama Gramsci, kebahagiaan Jawa ini memiliki implikasi politik. Subjek yang tenteram lebih sulit dikendalikan. Hegemoni kehilangan pijakan ketika keinginan tidak lagi menguasai batin. Kuasa modern sangat bergantung pada kegelisahan. Tirakat memotong sumber itu.

Esai ini tidak menempatkan Gramsci dan tradisi Jawa sebagai dua kutub yang saling meniadakan. Gramsci membantu memahami medan sosial tempat kuasa bekerja. Tradisi Jawa memberi laku untuk bertahan di medan itu tanpa kehilangan kejernihan batin.

Dalam dunia hari ini, kritik sosial tanpa kerja batin mudah berubah menjadi kemarahan yang melelahkan. Sebaliknya, kerja batin tanpa kesadaran sosial mudah jatuh pada pengasingan diri. Elaborasi antara pikiran Barat dan tradisi Jawa membuka kemungkinan lain.

Jawa menjawab tawaran pikiran Eropa dengan cara yang tenang, tetapi tegas. Masalah sosial memang nyata dan struktural, seperti yang ditunjukkan Gramsci. Namun, serangan hegemoni selalu masuk lewat batin. Tirakat memberi metode untuk menjaga pintu itu.

Di tengah dunia yang bising dan menuntut, dialog ini menjadi relevan. Ia menawarkan kemungkinan hidup yang sadar, tidak reaktif, dan tidak mudah dikuasai. Sebuah kebebasan yang tidak berisik, tetapi bertahan.


Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *