Artikel ini membahas alasan intelektual di balik sikap berseberangan dengan Mas Sabrang setelah masuk ke struktur negara. Fokus pada krisis kepakaran, meritokrasi akademik, figur kultural, serta hilangnya jarak kritis antara pengetahuan dan kekuasaan.
Posts published in “Opini”
Kemiskinan adalah hasil keputusan, bukan nasib. Melalui politik, ekonomi, dan tatanan sosial, tata kelola modern mengatur hidup sampai titik runtuh, lalu menyebut kematian sebagai masalah pribadi.
Ketokohan dalam dunia intelektual sering dipuja sebagai sumber kebenaran. Esai ini mengkritik bagaimana nama besar dan buku rujukan berubah menjadi alat dominasi, menghakimi gagasan baru, serta membentuk tirani intelektual di pikiran manusia.
Tulisan ini mengulas bagaimana media sosial membentuk cara berpikir publik, menguji kebebasan berekspresi dalam kerangka hukum dan etika, serta menyoroti pentingnya nalar rasional dalam menjaga kualitas demokrasi di era digital.





