Hak asasi manusia menjanjikan perlindungan terhadap martabat manusia. Namun kehidupan jutaan orang sering ditentukan oleh pasar global yang tidak berada di bawah mekanisme hak asasi manusia.
Posts published in “Esai”
Esai ini menggugat seruan membaca yang sering dianggap sebagai kewajiban moral universal. Di balik kampanye literasi terdapat realitas pekerja yang hidup dalam kelelahan fisik dan tekanan ekonomi. Tulisan ini juga meninjau sejarah revolusi besar yang menunjukkan bahwa kesadaran massa tidak selalu lahir dari membaca buku, tetapi dari pengalaman hidup yang konkret.
Esai ini membedah bagaimana moral sering dijadikan legitimasi kekuasaan. Dari bom atom di Jepang hingga polemik MBG dan pilihan diplomasi Indonesia, siapa yang sebenarnya menanggung konsekuensi kebijakan.
Artikel ini membahas alasan intelektual di balik sikap berseberangan dengan Mas Sabrang setelah masuk ke struktur negara. Fokus pada krisis kepakaran, meritokrasi akademik, figur kultural, serta hilangnya jarak kritis antara pengetahuan dan kekuasaan.
Kemiskinan adalah hasil keputusan, bukan nasib. Melalui politik, ekonomi, dan tatanan sosial, tata kelola modern mengatur hidup sampai titik runtuh, lalu menyebut kematian sebagai masalah pribadi.





