Oleh: Firhan Adfian
Potret kehidupan buruh pabrik di Sidoarjo. Jam kerja panjang, minim perlindungan, tekanan produksi, dan suara pekerja yang jarang terdengar.
Saya berdiam sejenak. Sambil menenteng hp di tangan kanan.
Bagi pemuda yang memulai tahap menjadi dewasa ini, dan telah menenggelamkan diri dalam hidup yang hari-hari berinteraksi dengan obrolan, “bisa kerja hari ini?” atau “hari ini masuk jam 10 ya!”.
May Day tahun ini benar-benar kondisi dimana saya melalui kesadaran dan pengalaman yang betul-betul menguras emosi. Dari yang saya lihat di konten-konten instagram dan melalui literatur yang saya baca, hal tersebut membuat saya lama memejamkan mata dan menatap langit-langit kos. Dan itulah saya rasa-alami dengan nyata yang mana mungkin inilah kondisi dimana bapak saya berpuluh tahun bekerja untuk membesarkan saya.
Saya seorang buruh di salah satu industri yang berdiri di Kabupaten Sidoarjo. Seminggu sebelum MayDay bergema adalah waktu dimana 7 hari itu saya pertama kali bekerja dengan separuh dalam sehari dihabiskan di tempat kerja.
Tulisan ini bukanlah untuk keperluan eksistensi atau informasi seputar pribadiku. Ini adalah sedikit dari yang belum banyak aku pelajari tentang bagaimana hidup terus berlangsung tetapi Ia sesungguhnya sudah habis terlebih dahulu oleh letih dan lelah.
Sebulan lebih saya sudah bekerja disini. Saya kebetulan terbesit untuk menanyakan beberapa hal kepada buruh yang lama bekerja di sini dan mendapatkan satu dua kalimat yang membuat saya tersenyum kecut.
Sistem yang tidak memihak hidup para buruh.
Kebanyakan pekerja yang menghidupi pabrik ini adalah sebagian besar dari pekerja harian atau outsourcing dengan jam kerja 12 jam. Kami bekerja melalui pihak ketiga dari perusahaan yang sekarang menjadi tempat kami bekerja. Dengan melalui sistem tersebut, pekerja ditempatkan pada kerentanan karena hak-hak seorang pekerja yang sama sekali tidak dipenuhi yaitu tanpa jaminan kesehatan dan upah yang tidak layak dari sebagian besar waktunya yang hilang.
Seperti inilah kondisi kami sekarang, tiada banyak pilihan, upah dibawah standar miskin kota dan bekerja dengan jam yang panjang.
Dalam suatu obrolan, mereka bilang, “enak 12 jam, akeh bayarane”, tetapi dibalik ucapan itu, saya nampak tiap hari mereka sebetulnya disaat yang bersamaan terlihat letih, lelah dan kantuk. Ya, kami hidup disini hampir separuh hidup habis dalam bayang-bayang dan intensitas tekanan produksi.
Hiburan mereka disini adalah saling bercanda sesama kawan sambil tetap tangannya terampil merenteng jajan. Kadang pula mereka terdengar menyanyi lirih, kadang juga membawa beberapa permen untuk menyingkirkan kantuk.
Bagi mereka tiada pilihan lain selain menjalani ini semua dengan sabar dan telaten.
Hilangnya emansipasi terhadap pekerja perempuan.
Pekerja disini diisi oleh orang-orang yang selama puluhan tahun bekerja. Dan mereka kebanyakan adalah para Ibu-ibu dan perempuan. Mereka telah bekerja selama 20 tahun lebih dan bahkan melebihi usiaku sendiri. “Sampeyan umure piro? halah yo sampean urung lahir aku wes kerjo ndek kene Mas.” Begitu ungkap salah satu pekerja setelah aku tanyai.
Saya pastinya tak bisa menyangkal semua perempuan disini memiliki peran ganda yaitu peran saat di tempat kerja sebagai seorang pekerja kemudian sesampai ia pulang dan di rumah mempunyai peran sebagai Ibu Rumah Tangga.
Pernah suatu waktu, Ibu dengan terkantuk-kantuk bilang bahwa Ia ngantuk karena memasak. Itu artinya waktu atas peran itu terbagi, antara Ibu sebagai pekerja dan sebagai Ibu Rumah Tangga ketika di rumah. Disini satu ironi muncul, kerentanan dan kelelahan karena waktu kerja yang panjang sudah sangat diwajarkan, dan baginya fenomena ini sudah menjadi urat nadinya selama bertahun lamanya.
Ditambah pula, mereka kebanyakan adalah pekerja outsourcing yang berarti mereka tidak dilonggarkan untuk mengambil cuti ketika haid atau dalam masa mengandung. Dan beberapa kuketahui, ternyata ada pula perempuan tersebut tetap masuk meski perutnya terlihat membesar dan terlihat mengganggu pergerakannya saat bekerja.
Nominal yang menggiurkan, manusiawi yang lenyap.
Banyak diantara orang-orang ketika mengenal nama tempat kami bekerja terlintas pemikiran bahwasannya gaji di tempat tersebut besar. Tetapi seringkali mereka melupakan, bagaimana manusia dipekerjakan selama 12 jam itu, dan seolah waktu dan tenaga nya hanya/untuk bekerja?
Juga terlebih pada para pekerja disini mereka terkecoh dengan nominal yang sebetulnya terhitung kecil kalau skala industri sebesar ini. Bagaimana bisa dibalik pernyataan, “Enak bayarane akeh!”, dan disamping itu mereka juga merasakan kelelahan yang sama, dan tersedotnya tenaga mereka karena hidup seperti desakan hanya untuk bekerja.
Saya masih meyakini bahwasannya saya dan mereka masih berfikir andai jika diperbandingkan hilangnya waktu dan perhatian terhadap ‘hidup’ bukanlah sebuah kemewahan. Dan sekarang apa artinya setengah hidup tergerus untuk menjadi roda-roda produksi dan hanya menguntungkan sebagian orang-orang yang berkantong besar alias tamak(?)
Catatan akhir
Jika ditinjau kedepan, akankah semua ini akan berakhir ataukah semakin menjadi-jadi?
Sebuah sistem tak mungkin berjalan tanpa restu dari birokrasi pemerintahan. Keterlibatan pemerintah adalah mengesahkan dan me-legalisasi kehidupan semacam ini; banyak orang dipaksa bekerja tanpa jaminan hidup dan upah yang layak, rekrutmen dalam dunia kerja semakin sempit, dan sikap pemerintah yang condong berpihak kepada para pemegang kapital yakni pemilik industri2 besar.
Adapun hal ini sangat terlihat dengan kebijakan-kebijakan yang diambil. Yang baru-baru ini saja seperti lewat badan kemendikti saintek yang bakalan hapus prodi yang tak relevan dengan dunia industri. Kan, apalah taek! Dan itu masih satu belum lain-lain lagi.
Saya rasa jika segala hal ini hanya diromantisasi sebagaimana wajarnya, generasi setelah kita yakni anak cucu lebih merasakan hal yang lebih mengenaskan daripada hidup kita hari ini.
Seperti kalimat dalam sebuah esai seorang teman begini saya kutipkan:
“Memaknai hari buruh dimulai dari memahami manusia, lalu mengubah struktur yang membuat manusia terus hidup meski bekerja keras setiap hari”.
Barangkali hidup yang diupayakan adalah harga dari suatu nilai dan menuju makna. Saat ini kita harus terus mengupayakan keadilan sosial tersebut, bagaimana negara tidak menutup mata terhadap hal ini dan segera mendorong transformasi kebijakan yang berpihak kepada orang-orang kecil.







Be First to Comment