sastra | oleh: Satrio Nugroho
Sepiring Nasi dan Sepotong Masa Depan
Aku ingin bercerita tentang dua benda ini: sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk, dan sepotong
masa depan. Keduanya tidak pernah bermusuhan. Tidak pernah saling membenci. Namun entah
mengapa, di negeri ini, aku merasa seperti dipaksa memilih di antara keduanya.
Sepiring nasi ini diam. Ia tidak protes. Tidak demo. Tidak menulis opini. Tapi ia bisa membuat
seorang anak bertahan—meredakan perut yang berisik, memberi tenaga untuk menjalani hari,
menghadirkan senyum kecil yang sederhana. Nasi menyelamatkan hari ini.
Sementara itu, ada buku. Tipis. Lusuh. Hampir sobek. Ia juga tidak berisik. Tapi ia mampu
membuat seorang anak bertahan jauh lebih lama—bahkan seumur hidup. Buku membuka jendela
yang tak terlihat, memperluas dunia yang semula sempit, dan memastikan seorang anak tidak
selamanya berdiri di antrean bantuan. Jika nasi menjaga hari ini, buku menjaga hari esok.
Karena itulah aku bingung. Mengapa aku harus merasa bersalah saat ingin keduanya ada bersama?
Pertanyaan itu semakin kuat ketika beberapa hari lalu aku datang ke sebuah sekolah. Cat
temboknya mengelupas seperti janji lama. Kipas anginnya berputar setengah hati—mungkin ia
juga lelah berharap diperbaiki. Anak-anak duduk berhimpitan, bukan karena akrab, tetapi karena
ruangnya memang sesempit itu. Di papan tulis tertulis: “Cita-Citaku.”
Melihat tulisan itu, aku tersenyum. Kupikir jawaban mereka akan gagah—dokter, pilot, insinyur.
Namun ketika aku bertanya kepada seorang anak kecil, “Kalau besar nanti mau jadi apa?” ia
menatapku tanpa ragu dan tanpa malu.
“Aku mau jadi orang yang tidak susah.”
Jawaban itu sederhana. Terlalu sederhana. Tidak muluk. Tidak tinggi. Hanya… tidak susah.
Di situlah aku mulai bertanya pada diriku sendiri: mengapa cita-cita kini sekadar bertahan?
Malamnya, saat aku pulang dan menyalakan televisi, pertanyaan itu belum juga hilang. Di layar,
debat panjang berlangsung tentang “Program Strategis Nasional”, “Efisiensi Anggaran”, dan
“Langkah Konkret Pemerintah”. Semuanya terdengar meyakinkan. Semuanya terdengar patriotik.
Namun tak satu pun terdengar seperti suara anak tadi.
Yang terdengar hanyalah angka. Angka yang dipindahkan. Angka yang disesuaikan. Angka yang
dipoles agar tampak rapi.
Padahal di sekolah itu, atap yang bocor bukan angka. Guru honorer bukan angka. Mimpi anak
kecil bukan angka.
Aku tidak menolak makanan yang konon bergizi dan gratis. Aku pernah lapar. Lapar yang
membuat huruf-huruf di buku tampak kabur. Lapar yang membuat harga diri terasa tipis. Karena
itu, jangan paksa aku memilih seolah aku tidak tahu rasanya
Justru karena aku tahu rasanya, aku takut kita sedang membangun kebiasaan baru—kebiasaan
merasa cukup hanya karena hari ini kenyang. Padahal kenyang tidak selalu berarti berdaya.
Ketika anggaran pendidikan dipotong, aku mencoba memahami. Katanya demi kebutuhan
mendesak. Katanya demi program strategis. Tapi semakin kupikirkan, semakin muncul pertanyaan
yang tak nyaman: strategis untuk siapa?
Untuk anak yang satu bukunya dipakai tiga orang?
Untuk guru honorer yang digaji seperti rasa kasihan?
Untuk mahasiswa yang UKT-nya naik diam-diam sementara mereka pura-pura kuat di depan
orang tua?
Atau strategis hanya untuk laporan yang terlihat rapi di meja konferensi pers?
Aku lelah dengan istilah-istilah yang terdengar bersih: penyesuaian, optimalisasi, efisiensi. Kata-
kata itu memang rapi di atas kertas. Namun di lapangan, yang bersih sering kali hanya meja
rapatnya.
Aku ini warga biasa. Bukan ekonom. Bukan pejabat. Tapi aku tahu satu hal yang sederhana:
pendidikan bukan pengeluaran.
Pendidikan adalah investasi yang hasilnya mungkin lambat, tetapi umurnya paling panjang. Jika
hari ini pupuknya dikurangi, jangan heran bila esok kita memanen ketimpangan. Dan ketika
ketimpangan itu tumbuh, kita mungkin kembali sibuk mencari solusi jangka pendek—tanpa
pernah menyentuh akarnya.
Kadang aku merasa negeri ini alergi pada pertanyaan. Ketika aku bertanya, aku dianggap tidak
sabar. Ketika aku mengkritik, aku dianggap tidak nasionalis. Ketika aku khawatir, aku dianggap
tidak paham konteks.
Padahal ibuku, yang tidak sekolah tinggi, pernah berkata, “Belajar yang rajin supaya kamu tidak
hidup dari belas kasihan.”
Kalimat itu sederhana, tapi menempel kuat. Karena hidup dari belas kasihan bukanlah cita-cita. Ia
adalah keadaan yang terpaksa diterima.
Dan di sinilah kemarahanku bermula. Bukan karena programnya. Bukan karena nasinya. Aku
marah karena kita dipaksa percaya bahwa negeri sebesar ini tidak mampu mengurus perut dan
pikiran sekaligus. Seolah-olah harus ada yang dikorbankan. Seolah-olah pendidikan adalah beban,
bukan fondasi.
Yang lebih menakutkan, kita mulai terbiasa. Terbiasa dengan polemik. Terbiasa dengan janji.
Terbiasa dengan kekecewaan. Terbiasa… dikecewakan.
Aku takut tanpa sadar kita sedang melatih generasi untuk terbiasa menerima tanpa pernah benar-
benar berdiri.
Karena jika piring ini berdiri sendiri, ia hanya menyelamatkan hari ini. Jika buku ini berdiri sendiri,
ia mungkin terasa jauh dari realitas. Namun jika keduanya berdiri bersama, tidak ada anak yang
harus memilih antara kenyang dan cerdas.
Dan ketika aku mengingat kembali anak kecil itu, pertanyaanku menjadi semakin sunyi: sepuluh
tahun lagi, dua puluh tahun lagi, apakah ia masih akan berkata, “Aku tidak ingin susah”? Atau ia
akan berkata, “Memang sudah takdirku begini”?
Jika suatu hari nanti mereka bertanya, “Mengapa dulu pendidikan kami tidak benar-benar
diperjuangkan?” semoga aku tidak menjawab, “Karena waktu itu kami sibuk berdebat tentang
nasi.”
Surabaya, 03 Maret 2026
Satrio Nugroho







Be First to Comment