FEATURE
Di tengah Surabaya yang dikepung gaya hidup hedonis, seorang anak muda bernama Bintang memilih menanam sayuran di Medokan. Potret kontradiksi kota metropolitan dan kerja sunyi pertanian urban.
Surabaya adalah kota yang bergerak dengan kecepatan tinggi. Ia tidak memberi banyak ruang untuk diam. Jalan diperlebar, gedung ditinggikan, pusat belanja diperbanyak. Kota ini terus memproduksi tanda bahwa ia modern, kuat, dan layak disebut metropolitan. Dari pusat hingga pinggiran, ritme hidup diarahkan pada konsumsi. Waktu diukur dari jam kerja, jam nongkrong, dan jam belanja. Nilai diri kerap ditautkan dengan apa yang bisa dibeli dan dipamerkan. Dalam arus seperti itu, hubungan manusia dengan tanah dianggap usang. Bertani diposisikan sebagai sisa masa lalu yang tidak relevan dengan kota.
Namun Surabaya tidak sepenuhnya patuh pada narasi itu. Di Surabaya Timur, wilayah Medokan, ada sebidang kebun yang menolak tunduk. Tidak luas. Tidak tertata seperti taman kota. Tanahnya lembap, ditumbuhi rumput liar, dan berada dekat pagar besi serta lalu lintas kendaraan. Di tempat inilah Bintang bekerja. Ia muda. Tubuhnya masih kuat. Tangannya kotor oleh tanah. Ia menanam biji sayuran di tengah kota yang lebih akrab dengan beton dan layar gawai.

Foto yang diambil pada Senin, 9 Februari 2026, pukul 13.00 WIB, memperlihatkan situasi yang jujur. Tidak ada pose. Tidak ada pencitraan. Bintang menunduk, memegang ember cat bekas berisi benih. Ia menyebar biji ke lubang tanah yang dibuat manual. Air disiram seadanya. Kakinya telanjang, menapak langsung ke tanah basah. Di sekelilingnya tumbuh tanaman hijau yang sudah lebih dulu hidup. Di belakangnya, pagar dan bangunan kota tetap berdiri, seolah mengawasi dari jauh.
Apa yang dilakukan Bintang terlihat sederhana. Justru di situlah letak ketegangannya. Di kota yang menuntut kecepatan, ia memilih kerja lambat. Di kota yang memuja hasil instan, ia menanam sesuatu yang baru bisa dipanen beberapa minggu kemudian. Di kota yang membangun jarak antara manusia dan sumber pangan, ia mendekatkan tubuhnya pada tanah. Ini bukan sekadar aktivitas bercocok tanam. Ini sikap.
Surabaya sering membanggakan diri sebagai kota jasa dan perdagangan. Narasi itu diulang dalam kebijakan, iklan, dan pidato resmi. Kota diposisikan sebagai mesin ekonomi. Manusia di dalamnya diarahkan menjadi pekerja, konsumen, dan pelaku pasar. Dalam kerangka ini, pertanian dianggap tidak produktif. Ia tidak menghasilkan citra modern. Ia tidak menjanjikan gaya hidup. Anak muda didorong menjauh dari tanah dan mendekat ke kantor, kafe, dan pusat hiburan.
Bintang memilih arah sebaliknya. Ia tidak melawan dengan slogan. Ia tidak membuat manifesto. Ia bekerja. Setiap biji yang ia tanam adalah pernyataan bahwa kota tidak berhak sepenuhnya memutus hubungan manusia dengan pangan. Bahwa Surabaya tidak hanya bisa diisi oleh gedung dan mall. Bahwa tanah di kota masih bisa ditanami, selama ada kemauan untuk mengurusnya.
Kontradiksi ini terasa kasar. Di satu sisi, kota mempromosikan kesenangan sebagai tujuan hidup. Di sisi lain, Bintang menjalani kerja yang menuntut disiplin dan kesabaran. Hedonisme kota bekerja dengan logika instan. Datang, beli, nikmati, lalu pergi. Bertani bekerja dengan logika sebaliknya. Menyiapkan lahan, menanam, merawat, menunggu, dan menerima hasil apa adanya. Tidak ada jaminan. Tidak ada kepastian cuaca. Tidak ada tombol percepat.

Medokan bukan ruang ideal. Ia bukan desa. Ia adalah bagian dari kota yang terus terdesak pembangunan. Kebun itu bisa saja hilang esok hari, diganti proyek baru. Bintang sadar akan risiko itu. Namun ia tetap menanam. Keputusan ini menunjukkan keberanian yang jarang dibicarakan. Keberanian untuk mengerjakan sesuatu yang bisa dirampas kapan saja. Keberanian untuk tidak tunduk pada logika efisiensi kota.
Anak muda di kota sering digambarkan apatis atau terjebak gaya hidup. Gambaran ini tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak lengkap. Bintang membuktikan bahwa ada pilihan lain. Pilihan ini tidak romantis. Tidak ada jaminan ekonomi besar. Tidak ada pujian sosial. Justru sering dianggap aneh. Bertani di kota dipandang sebagai kegagalan menyesuaikan diri. Padahal, yang gagal bisa jadi adalah kota itu sendiri, karena tidak menyediakan ruang hidup yang utuh bagi warganya.
Kerja Bintang bersifat fisik. Ia menguras tenaga. Tubuhnya terlibat penuh. Ini kontras dengan banyak pekerjaan urban yang memisahkan tubuh dari hasil kerja. Bertani memaksa manusia berhadapan langsung dengan proses. Tanah tidak bisa dibohongi. Benih tidak tumbuh karena teori. Ia tumbuh karena perawatan nyata. Dalam konteks ini, kerja Bintang adalah bentuk perlawanan terhadap alienasi yang diproduksi kota.
Surabaya sering membicarakan ketahanan pangan dalam dokumen resmi. Namun praktiknya, pangan diperlakukan sebagai komoditas yang didatangkan dari luar. Kota mengandalkan distribusi, bukan produksi. Ketergantungan ini jarang dipersoalkan. Kebun Bintang mengajukan pertanyaan sederhana. Mengapa kota yang begitu luas tidak memberi ruang bagi produksi pangan warganya sendiri. Mengapa tanah kosong lebih cepat dijadikan lahan parkir daripada kebun.
Bintang tidak mengklaim dirinya petani besar. Ia mengelola kebun dengan sumber daya terbatas. Ember bekas, air seadanya, dan tenaga sendiri. Justru keterbatasan ini membuat praktiknya relevan. Ia menunjukkan bahwa bertani tidak harus menunggu program besar atau bantuan formal. Ia bisa dimulai dari keputusan personal. Dari kesediaan untuk kotor dan lelah.

Narasi kota sering meminggirkan kerja seperti ini. Media lebih tertarik pada kisah sukses instan. Anak muda yang bertani dianggap menarik hanya jika dikemas sebagai tren. Jika tidak, ia tenggelam. Feature ini menolak cara pandang itu. Bintang tidak perlu dibingkai sebagai inspirasi manis. Ia cukup dilihat apa adanya. Seorang anak muda yang memilih menanam di kota yang sibuk memuja konsumsi.
Kontradiksi ini tidak perlu didamaikan. Justru harus dibiarkan terbuka. Surabaya sebagai kota metropolitan akan terus berkembang. Hedonisme akan terus mencari ruang. Namun keberadaan kebun seperti di Medokan mengganggu narasi tunggal itu. Ia mengingatkan bahwa kota adalah ruang hidup, bukan sekadar mesin ekonomi. Bahwa ada nilai lain selain kenyamanan dan hiburan.
Bintang bekerja dalam kesunyian relatif. Tidak banyak yang melihat. Tidak banyak yang peduli. Namun dampaknya tidak bisa diremehkan. Setiap tanaman yang tumbuh adalah bukti bahwa kota tidak sepenuhnya steril. Bahwa masih ada celah bagi praktik hidup yang berbeda. Celah ini kecil, rapuh, dan mudah hilang. Justru karena itu, ia penting.
Surabaya sering mengklaim diri sebagai kota pahlawan. Klaim ini biasanya diulang dalam konteks sejarah perang dan maskulinitas lama. Kerja Bintang menawarkan bentuk maskulinitas lain. Maskulinitas yang tidak berisik. Maskulinitas yang bekerja tanpa panggung. Menanam, merawat, dan bertanggung jawab pada kehidupan yang ia mulai sendiri. Tidak ada heroisme besar. Hanya konsistensi.

Di tengah kota yang dikepung pusat hiburan dan simbol kemewahan, kebun ini terasa seperti gangguan visual. Ia tidak rapi. Tidak instagramable. Tanahnya becek. Rumputnya liar. Namun justru di situ kota diuji. Apakah Surabaya hanya ingin terlihat maju, atau benar benar ingin hidup.
Bintang tidak sedang melarikan diri dari kota. Ia tetap di dalamnya. Ia memilih bernegosiasi dengan kota lewat tanah. Pilihan ini menuntut keteguhan. Kota tidak akan memberi karpet merah. Ia justru memberi tekanan. Dari nilai sosial hingga ancaman penggusuran. Namun kerja terus berjalan, selama tubuh masih sanggup.
Feature ini tidak menawarkan solusi besar. Tidak ada ajakan program. Tidak ada seruan moral. Yang ada hanya potret kontradiksi yang nyata. Surabaya dengan segala hiruk pikuknya. Dan seorang anak muda di Medokan yang menanam sayuran di siang hari, saat kota sibuk mengejar kesenangan lain.
Di titik ini, pertanyaannya sederhana. Kota macam apa yang sedang dibangun. Kota yang memutus manusia dari tanahnya sendiri, atau kota yang memberi ruang bagi kerja yang memberi makan. Bintang tidak menjawab pertanyaan itu dengan kata kata. Ia menjawabnya dengan tangan yang masuk ke tanah.
Surabaya boleh terus tumbuh sebagai kota metropolitan. Mall boleh bertambah. Gaya hidup boleh makin mahal. Namun selama masih ada orang seperti Bintang, kota ini belum sepenuhnya kehilangan akal sehatnya. Di Medokan, di bawah terik siang, benih ditanam. Itu sudah cukup sebagai pernyataan.








Be First to Comment