Press "Enter" to skip to content

Algoritma dan Kematian Perlahan Demokrasi

Esai

Algoritma membentuk pilihan manusia sebelum berpikir. Esai ini menguliti bagaimana demokrasi menghadapi kekuatan algoritma yang menata kehendak pra sadar warga.


Demokrasi lahir dari keyakinan bahwa manusia mampu berpikir sebelum bertindak. Bukan berpikir yang sempurna, tetapi berpikir yang cukup untuk membuat pilihan dan menanggung akibatnya. Dari keyakinan inilah muncul hak pilih, kebebasan berbicara, dan anggapan bahwa suara setiap orang memiliki nilai yang setara.

Keyakinan ini tidak pernah mudah. Demokrasi selalu berisik, lambat, dan penuh konflik. Ia memberi ruang bagi orang yang berbeda, pikiran yang berseberangan, dan emosi yang saling bertabrakan. Namun justru di situlah martabatnya. Demokrasi percaya bahwa manusia bukan sekadar makhluk yang bereaksi, tetapi makhluk yang bisa menimbang.

Selama bertahun tahun, musuh demokrasi relatif jelas. Kekuasaan otoriter memaksa dari luar. Propaganda menekan dari atas. Sensor membungkam suara. Semua ancaman ini bekerja dengan cara kasar. Manusia tahu ketika dirinya ditekan. Pikiran sadar masih menjadi medan utama pertarungan.

Hari ini, situasinya berubah secara mendasar. Demokrasi menemukan lawan baru yang tidak memaksa dan tidak mengaku sebagai kekuasaan. Lawan itu tidak melarang, tidak mengancam, dan tidak memerintah. Ia mengatur. Ia menata. Ia membentuk kebiasaan berpikir sebelum manusia sadar sedang berpikir. Lawan itu adalah algoritma.

Algoritma bukan makhluk jahat. Ia adalah sistem. Ia bekerja dengan logika sederhana. Mengamati perilaku, mencari pola, lalu menyajikan apa yang paling mungkin memicu reaksi. Masalahnya, ketika sistem ini menjadi pintu utama manusia memahami dunia, maka logika itu ikut menentukan bagaimana manusia membentuk pendapat.

Untuk memahami dampaknya, kita perlu turun ke pengalaman paling sehari hari. Ketika Kamu membuka ponsel, Kamu tidak memulai dari ruang kosong. Kamu langsung disuguhi pilihan. Berita tertentu muncul lebih dulu. Video tertentu direkomendasikan. Nada emosi tertentu terasa dominan.

Kamu mungkin merasa bebas. Kamu bisa menggulir. Kamu bisa menutup aplikasi. Namun arah awal sudah ditentukan. Dan arah awal sangat menentukan. Apa yang pertama kali Kamu lihat akan mempengaruhi suasana hati. Suasana hati mempengaruhi cara menilai. Cara menilai mempengaruhi pilihan.

Semua ini terjadi sebelum Kamu sempat berkata, saya sedang berpikir.

Di sinilah demokrasi mulai kehilangan pijakan. Demokrasi mengandaikan bahwa kehendak manusia terbentuk melalui proses sadar. Algoritma membentuk kehendak melalui kebiasaan pra sadar. Ia tidak berkata, pilih ini. Ia berkata, lihat ini dulu. Dan dari melihat yang terus diulang, lahirlah rasa benar.

Manusia bukan makhluk yang sepenuhnya rasional. Demokrasi tahu itu. Karena itu demokrasi menciptakan ruang debat, pendidikan, dan waktu. Agar emosi bisa bertemu alasan. Algoritma tidak memberi waktu. Ia bekerja cepat. Ia mendorong reaksi. Ia menghargai keterlibatan, bukan perenungan.

Ketika sistem seperti ini menguasai ruang publik, perubahan besar terjadi. Perhatian manusia menjadi medan utama kekuasaan. Bukan lagi siapa yang berbicara paling masuk akal, tetapi siapa yang paling sering muncul. Bukan siapa yang paling jujur, tetapi siapa yang paling memicu emosi.

Pelan pelan, manusia dibiasakan untuk bereaksi. Marah, takut, tersinggung, bangga. Reaksi ini direkam, lalu diperkuat. Apa yang membuat Kamu bereaksi akan muncul lagi. Bukan karena itu penting bagi masyarakat, tetapi karena itu membuatmu bertahan di layar.

Di sinilah perbedaan mendasar antara demokrasi dan algoritma. Demokrasi ingin manusia belajar dari perbedaan. Algoritma ingin manusia tinggal dalam pola. Demokrasi butuh warga yang bisa berubah pikiran. Algoritma bekerja paling baik ketika manusia bisa ditebak.

Akibatnya terasa di mana mana. Orang menjadi semakin yakin pada pandangannya sendiri. Bukan karena ia telah menimbang banyak sudut pandang, tetapi karena ia jarang melihat yang berbeda. Ketika perbedaan muncul, ia terasa mengancam.

Ini bukan kesalahan individu. Ini hasil dari sistem yang membentuk perhatian. Jika Kamu terus menerus disuguhi narasi tertentu, maka narasi lain akan terasa asing. Dan yang asing sering kali dianggap salah atau berbahaya.

Demokrasi membutuhkan dunia bersama. Dunia di mana warga, meskipun berbeda pendapat, masih berbagi fakta dasar dan pengalaman umum. Algoritma justru memecah dunia itu. Setiap orang hidup dalam aliran yang disesuaikan. Setiap orang merasa realitasnya paling nyata.

Dua orang bisa hidup di kota yang sama, memilih dalam pemilu yang sama, tetapi melihat dunia yang sepenuhnya berbeda. Yang satu merasa negaranya di ambang kehancuran. Yang lain merasa semuanya baik baik saja. Keduanya jujur. Keduanya yakin. Tetapi keyakinan itu lahir dari dunia yang tidak pernah benar benar bertemu.

Dalam kondisi seperti ini, debat publik menjadi mustahil. Orang tidak lagi bertengkar tentang solusi. Mereka bertengkar tentang kenyataan. Demokrasi kehilangan fungsinya sebagai ruang untuk menyelesaikan perbedaan secara damai.

Masalah ini sering disederhanakan menjadi isu berita palsu. Padahal kebohongan bukan inti persoalan. Bahkan informasi yang benar pun bisa merusak demokrasi jika disajikan secara timpang dan berulang tanpa konteks.

Algoritma tidak perlu berbohong. Ia cukup mengatur urutan. Apa yang muncul lebih sering akan terasa lebih penting. Apa yang jarang muncul akan terasa tidak relevan. Ini bukan manipulasi kasar. Ini pembiasaan.

Pembiasaan adalah kekuatan besar. Ia bekerja tanpa disadari. Ia membentuk cara melihat dunia. Ketika pembiasaan ini terjadi pada jutaan orang, demokrasi berubah bentuk dari dalam.

Pemilu tetap berjalan. Partai tetap ada. Kampanye tetap ramai. Namun proses batin warga telah berubah. Memilih tidak lagi sepenuhnya menjadi hasil pertimbangan, tetapi kelanjutan dari emosi yang telah dipupuk lama.

Di titik ini, muncul pertanyaan yang jarang diajukan secara jujur. Jika kehendak manusia dibentuk dalam kondisi pra sadar oleh sistem yang tidak tunduk pada nilai demokrasi, apakah demokrasi masih memiliki makna moral.

Hak memilih memang tidak dicabut. Tetapi kemampuan untuk memilih secara bebas telah dikondisikan. Bukan dengan larangan, tetapi dengan arsitektur perhatian.

Algoritma sering disebut netral. Ini menenangkan, tetapi keliru. Sistem yang mengatur apa yang terlihat dan apa yang tenggelam selalu membawa nilai. Nilai itu bukan kebaikan bersama. Nilai itu adalah efisiensi, keterlibatan, dan keuntungan.

Emosi ekstrem bekerja paling baik untuk tujuan ini. Ketakutan membuat orang kembali. Kemarahan membuat orang bertahan. Kebencian menyebar cepat. Ketenangan dan keraguan tidak menghasilkan banyak klik.

Akibatnya, politik ikut terseret ke dalam logika ini. Aktor politik yang paling berhasil bukan yang paling bertanggung jawab, tetapi yang paling kompatibel dengan sistem. Pesan dipersingkat. Musuh diperjelas. Nuansa dibuang.

Ini bukan karena masyarakat menolak berpikir. Ini karena sistem tidak memberi ruang bagi pikiran yang lambat. Demokrasi membutuhkan waktu. Algoritma menuntut kecepatan.

Pertarungan ini bukan antara manusia dan mesin. Ini pertarungan antara dua cara memandang manusia. Demokrasi melihat manusia sebagai subjek moral. Algoritma melihat manusia sebagai sumber data.

Ketika pandangan kedua ini mendominasi, demokrasi menjadi rapuh. Ia tetap berdiri secara hukum, tetapi kosong secara etis. Prosedur berjalan, tetapi makna memudar.

Lalu di mana posisi manusia. Manusia berada di tengah tarikan ini. Ia merasa memilih, tetapi jarang bertanya bagaimana pilihannya dibentuk. Ia merasa bebas, tetapi tidak sadar betapa sempit medan perhatiannya.

Ini bukan tuduhan. Ini deskripsi kondisi. Tidak ada yang sepenuhnya kebal. Bahkan mereka yang merasa kritis tetap hidup dalam sistem yang sama.

Pertanyaannya sekarang adalah pilihan kolektif. Apakah demokrasi akan menerima kondisi ini sebagai takdir, atau berani menuntut kembali ruang berpikir manusia.

Menuntut kembali tidak berarti mematikan teknologi. Itu ilusi. Menuntut kembali berarti mengakui bahwa pengaturan perhatian adalah urusan politik. Bahwa sistem yang membentuk kehendak publik harus tunduk pada norma publik.

Tanpa pengakuan ini, demokrasi akan terus bermain di medan yang salah. Ia akan sibuk mengatur hasil, tetapi abai pada proses batin yang melahirkannya.

Namun pada akhirnya, tidak ada regulasi yang bisa menggantikan satu hal. Kesadaran manusia sendiri. Demokrasi hidup selama manusia mau berhenti sejenak sebelum bereaksi. Mau bertanya, kenapa saya merasa seperti ini. Dari mana perasaan ini datang.

Jika ruang jeda itu hilang, maka berpikir menjadi reaksi. Dan ketika berpikir menjadi reaksi, demokrasi tidak perlu dijatuhkan. Ia akan kosong dengan sendirinya.

Demokrasi tidak mati karena algoritma lebih pintar. Demokrasi mati ketika manusia berhenti percaya bahwa pikirannya layak diperjuangkan.

Be First to Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *