Feature
Stand Up Poetry menjadi ruang sastra urban yang vulgar dan kritis. Dari kisah rumah hingga kritik sosial, kata hidup sebagai praktik budaya tanpa penilaian dan tanpa hadiah.
Kamu hidup di kota yang bergerak cepat tapi sering lupa mendengar dirinya sendiri. Di sela kemacetan, kos sempit, rumah yang makin jauh dari kata pulang, sastra urban tumbuh tanpa pamit. Ia tidak datang dari ruang kelas atau podium resmi. Ia lahir dari dapur pengap, kamar kontrakan, bangku angkot, dan obrolan larut malam yang setengah mabuk realitas. Dari kisah rumah yang retak hingga kritik sosial yang telanjang, kata kata mencari jalannya sendiri untuk hidup.
Sastra urban tidak sibuk menjadi rapi. Ia tidak peduli pada pakem. Yang penting bicara. Yang penting jujur. Rumah tidak selalu berarti hangat. Rumah bisa jadi sumber tekanan. Orang tua yang kelelahan. Anak yang belajar diam. Tagihan yang menumpuk di meja. Semua itu masuk ke dalam tulisan tanpa disaring agar enak dibaca. Di kota, hidup jarang manis. Maka kata juga tidak perlu pura pura manis.
Dari situ kritik sosial muncul secara alami. Bukan dalam bentuk makalah. Bukan lewat jargon. Kritik itu muncul sebagai cerita sehari hari. Tentang kerja yang menguras waktu. Tentang upah yang tidak sepadan. Tentang mimpi yang dipaksa menyesuaikan realitas. Tentang marah yang tidak punya saluran. Kata menjadi tempat buang emosi yang selama ini ditahan demi terlihat baik baik saja.
Stand Up Poetry hadir di tengah kondisi itu. Ia bukan sekadar acara baca puisi. Ia adalah ruang kumpul. Ia adalah momen budaya yang memberi panggung pada suara yang jarang didengar. Di ruang ini, orang lintas usia dan latar belakang berdiri membawa tulisannya sendiri. Ada pelajar. Ada pekerja kantoran. Ada buruh. Ada ibu rumah tangga. Tidak ada syarat selain berani bicara.
Yang naik ke panggung tidak dituntut jadi penyair. Mereka hanya diminta jujur. Tulisan dibacakan dengan suara gemetar atau penuh tawa. Ada yang bercanda soal cinta yang gagal. Ada yang mengutuk sistem yang bikin hidup seret. Ada yang hanya bercerita tentang lelah. Semua diterima tanpa perlu pembelaan.
Gaya yang muncul sering kali vulgar. Bukan demi sensasi. Tapi karena hidup memang tidak selalu sopan. Kata kasar dipakai untuk menamai rasa. Kalimat pendek dipilih karena emosi sedang padat. Tidak ada usaha memperhalus luka. Luka dibiarkan terbuka agar terasa nyata. Di sini keindahan tidak selalu halus. Kadang ia kasar dan mentah.
Stand Up Poetry mematahkan anggapan bahwa sastra harus sunyi dan berjarak. Di ruang ini sastra berdiri di depan orang banyak. Ia berhadapan langsung dengan reaksi. Tawa datang tiba tiba. Sunyi jatuh tanpa aba aba. Emosi berpindah cepat dari pembaca ke pendengar. Literasi tidak lagi jadi urusan halaman buku. Ia menjadi peristiwa.
Bagi banyak orang, ini adalah pertemuan pertama mereka dengan sastra yang terasa dekat. Tidak mengintimidasi. Tidak sok pintar. Tidak bicara dari menara gading. Kata kata yang dibacakan adalah bahasa sehari hari. Tentang hidup yang Anda jalani. Tentang masalah yang Anda kenal. Tentang rasa yang sering Anda pendam.
Di kota, ruang untuk bicara jujur makin sempit. Media sosial mendorong orang tampil rapi. Opini diburu algoritma. Emosi diperas jadi konten. Stand Up Poetry bergerak ke arah sebaliknya. Ia lambat. Ia tidak viral. Tapi ia memberi ruang aman untuk gagal dan gagap. Kamu boleh lupa teks. Kamu boleh salah ucap. Tidak ada yang menertawakan untuk menjatuhkan.
Tidak ada penilaian formal. Tidak ada juri. Tidak ada hadiah. Absennya kompetisi justru menjadi kekuatan. Orang tidak naik untuk menang. Mereka naik untuk lega. Yang tersisa setelah acara bukan trofi. Yang tersisa adalah perasaan didengar. Sesuatu yang makin langka di kota.
Dalam konteks budaya, Stand Up Poetry mencerminkan perubahan cara generasi urban berelasi dengan sastra. Mereka tidak menunggu legitimasi. Mereka menciptakan ruang sendiri. Mereka mengaburkan batas antara pembaca dan penulis. Semua orang bisa bicara. Semua orang punya cerita.

Kritik sosial yang muncul juga tidak tunggal. Ia berlapis dan personal. Ada kritik soal negara yang absen. Ada kritik soal budaya kerja yang kejam. Ada kritik soal norma yang menekan tubuh dan pikiran. Semua disampaikan dari sudut pandang individu. Justru dari situ ia terasa kuat. Karena ia berangkat dari pengalaman hidup.
Sastra urban tidak menawarkan solusi instan. Ia tidak menjanjikan perubahan cepat. Yang ia lakukan adalah membuka percakapan. Membiarkan orang saling dengar. Membiarkan emosi beredar tanpa disaring jadi slogan. Dalam dunia yang serba cepat, ini adalah bentuk perlawanan kecil.
Bagi Kamu yang datang sebagai penonton, pengalaman ini sering kali mengguncang. Kamu mendengar cerita yang mirip dengan hidupmu sendiri. Kamu tertawa lalu terdiam. Kamu merasa tidak sendirian. Sastra di sini bekerja bukan sebagai hiburan murni. Ia bekerja sebagai cermin.
Bagi Kamu yang naik ke panggung, ini adalah latihan keberanian. Berdiri di depan orang asing dengan membawa isi kepala sendiri bukan hal sepele. Ada risiko ditertawakan. Ada risiko disalahpahami. Tapi justru di situ letak kemerdekaan. Pikiran diberi ruang untuk hidup tanpa harus patuh.
Stand Up Poetry juga menunjukkan bahwa literasi tidak selalu soal angka baca. Ia soal relasi dengan kata. Soal keberanian menulis dan membacakan. Soal kesediaan mendengar. Dalam ruang kecil seperti ini, literasi menjadi praktik sosial. Bukan slogan.
Kota akan terus memproduksi masalah. Rumah akan terus menyimpan cerita. Ketimpangan tidak akan hilang besok pagi. Tapi selama ada ruang seperti ini, kata kata masih punya fungsi. Ia menjadi alat bertahan. Ia menjadi senjata kecil. Ia menjadi tempat pulang sementara.
Sastra urban tidak meminta diakui sebagai arus utama. Ia berjalan di pinggir dengan sadar. Justru dari pinggir ia bisa melihat lebih jujur. Ia tidak sibuk menjaga citra. Ia sibuk menjaga nyala.
Stand Up Poetry adalah salah satu bentuknya. Sebuah momen budaya yang sederhana tapi penting. Di sana Kamu bisa mendengar kota berbicara lewat suara manusia. Tanpa filter. Tanpa hadiah. Tanpa penilaian. Yang berkelindan hanyalah rasa merdeka atas pikiran yang hidup. Pikiran yang berani kotor. Pikiran yang menolak diam. Pikiran yang memilih bicara meski suaranya gemetar.
Stand Up Poetry merupakan agenda rutin yang diselenggarakan oleh komunitas Cakrawalakata Movement. Komunitas ini aktif bergerak di bidang literasi dan ruang kreatif, dengan fokus membuka panggung bagi ekspresi tulisan yang jujur dan beragam. Lewat kegiatan ini, Cakrawalakata Movement merawat praktik membaca, menulis, dan membacakan karya sebagai bagian dari kehidupan sehari hari di kota Surabaya, sekaligus mempertemukan individu dari latar belakang berbeda dalam satu ruang budaya yang setara.







Be First to Comment